Kompas.com - 17/08/2021, 11:18 WIB
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com – Selain Presiden Joko Widodo yang mengenakan pakaian adat Pepadun dari Provisi Lampung, dalam Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2021, rupanya masih banyak yang mengenakan pakaian adat.

Ya, dalam upacara yang digelar di Istana Negara pada Selasa (17/8/2021) kali ini, Ibu Negara Iriana Joko Widodo tampak anggun mengenakan busana nasional berwarna gading dilengkapi kain songket.

Penampilan sederhana Iriana itu tampak dilengkapi dengan jilbab berwarna senada.
Sementara itu, Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Wury Ma'ruf Amin tampak serasi mengenakan pakaian adat Sunda dari Sukabumi, Jawa Barat.

Wapres terlihat tampil elegan dengan setelan jas tertutup serta celana panjang warna biru yang dipadukan dengan kain samping batik yang diikatkan di pinggang.

Senada dengan Wapres, Ibu Wury tampak anggun mengenakan kebaya bersulam warna biru polos dengan bawahan kain jarik putih bermotif batik khas Sunda yang biasa disebut sarung kebat atau sinjang bundel.

Presiden Joko Widodo tiba untuk memimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan 1945 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (17/8/2021). Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Lampung.ANTARA FOTO/SETPRES/HANDOUT Presiden Joko Widodo tiba untuk memimpin Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan 1945 di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (17/8/2021). Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Lampung.
Selain itu, Ketua DPR RI Puan Maharani yang membacakan teks proklamasi tampak mengenakan baju adat Minang bernuansa krem, merah, dan emas, yang disebut baju adat bundo kanduang dari Sumatera Barat.

Puan juga terlihat memiliki sebuah kain songket kotak-kotak berwarna merah yang tersampir di bahunya.

Selain baju batabue (baju kurung) dan kain songket yang dipakainya, Puan juga memakai penutup kepala berbentuk rumah gadang (tingkuluak) berwarna merah dan bermotif kotak-kotak.

Tingkuluak ini rupanya memiliki makna. Dikutip dari buku Pakaian Adat Sumatera Barat (1986), tingkuluak tanduk tersebut melambangkan rumah gadang (besar) atau rumah adat Minangkabau.

Karena masyarakat beranggapan bahwa rumah adat tersebut adalah milik perempuan atau kaum ibu, dataran yang ada di atas tengkuluk melambangkan bahwa dalam memutuskan sesuatu haruslah dengan mufakat atau musyawarah dan hasilnya harus adil.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.