Kompas.com - 18/08/2021, 12:10 WIB
Orang-orang berkumpul di sekitar bendera Taliban saat mereka menunggu kerabat dibebaskan dari penjara di Afghanistan menyusul 'amnesti' oleh Taliban, dekat titik perbatasan Pakistan-Afghanistan di Chaman pada 17 Agustus 2021. AFPOrang-orang berkumpul di sekitar bendera Taliban saat mereka menunggu kerabat dibebaskan dari penjara di Afghanistan menyusul 'amnesti' oleh Taliban, dekat titik perbatasan Pakistan-Afghanistan di Chaman pada 17 Agustus 2021.

KOMPAS.com - Kabar soal kelompok militan Taliban yang kini menguasai Afganistan mengguncang dunia dan menjadi pemberitaan di mana-mana.

Nasib jutaan penduduk negara itu dipertanyakan beserta sejumlah kecemasan lain yang muncul. Media sosial juga diramaikan isu ini termasuk sejumlah potret terbaru di negara tersebut.

Salah satu yang viral ialah foto ratusan warga Afganistan yang rela duduk berdesak-desakan di pesawat demi keluar dari negara itu.

Selain itu, ribuan masyarakat lainnya berkumpul di bandara, menandai eksodus yang dilakukan untuk menghindarkan diri dari kekuasaan Taliban.

Pemberitaan soal Taliban yang viral ini mungkin sedikit membingungkan bagi sebagian dari kita. Khususnya yang tidak begitu mengikuti isu global yang berkaitan dengan negara lainnya.

Baca juga: Sederet Janji Taliban: Hormati Hak Perempuan hingga Takkan Jadi Sarang Teroris

Diantara banyak kelompok militan dan isu lain di dunia, apa yang menyebabkan persoalaan Afganistan menjadi hal yang amat penting secara global?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berikut adalah tiga hal yang menjadi alasannya:

  • Bakal menjadi masalah HAM dunia

Taliban memiliki reputasi buruk karena praktik kebrutalan dan kekerasan sebelum digulingkan oleh Amerika Serikat pada 2001 lalu.

Kelompok ini menolak hak pendidikan bagi wanita, melakukan eksekusi publik bagi lawan politiknya, menganiaya minoritas dan menghancurkan peninggalan budaya yang tak ternilai harganya.

Kali ini, kelompok ini diperkirakan akan melakukan hal serupa sehingga menciptakan kesengsaraan bagi penduduk Afganistan.

Baca juga: Facebook dan TikTok Blokir Konten Terkait Taliban

Husain Haqqani, mantan duta besar Pakistan untuk AS mengatakan tidak ada alasan untuk percaya bahwa rezim baru Taliban tidak akan melakukan pelanggaran HAM lainnya.

"Taliban telah mengeksekusi orang secara serampangan, mereka telah memukuli wanita, mereka telah menutup sekolah. Mereka telah meledakkan rumah sakit dan infrastruktur, semuanya dilakukan di wilayah negara yang mereka kendalikan," ujarnya, dikutip dari laman NPR.

Beberapa milisi Taliban menukarnya Kalashnikov AK-47 Rusia dengan senjata Amerika Serikat (AS) yang disita saat pemerintah Afghanistan runtuh. Beberapa milisi Taliban menukarnya Kalashnikov AK-47 Rusia dengan senjata Amerika Serikat (AS) yang disita saat pemerintah Afghanistan runtuh.

  • Menjadikan Afganistan lokasi berkumpul para teroris dunia

Kekuasan Taliban di Afganistan dikhawatirkan akan menjadikan negara itu sebagai tempat berkumpul pada ekstremis di dunia. Para teroris, seperti Al-Qaida dan ISIS, akan merasa negara itu aman sebagai tempat bersembunyi sebelum meluncurkan aksinya di lokasi tujuan.

Hal ini sesuai dengan latar belakang Taliban sebagai kelompok militan yang juga melegalkan praktik teror dan kekerasan.

Terlebih lagi, Taliban memiliki catatan buruk ketika menolak untuk menyerahkan Osama bin Laden, yang mengawali invasi militer AS pasca serangan teroris 11 September 2001.

Ghulam Isaczai, perwakilan Afghanistan untuk PBB, menyuarakan peringatan serupa pekan lalu, mengatakan bahwa dalam "tindakan barbarisme yang disengaja, Taliban dibantu oleh jaringan teroris transnasional."

Baca juga: INFOGRAFIK: Sejarah Kelompok Taliban

  • Berisiko menciptakan ketidakstabilan di Pakistan

Afganistan berbatasan dengan Pakistan di sisi selatan dan timurnya sehingga kekuasaan Taliban akan memberikan pengaruh yang besar pada negara itu.

Militer Pakistan juga telah lama menilai Afganistan sebagai rekanan yang diperlukan dalam persaingan melawan India.

Selain itu, selama bertahun-tahun, Pakistan menampung puluhan ribu pengungsi Afghanistan di kamp-kamp perbatasan seperti Jalozai yang menciptakan beban keuangan maupun politik.

Taliban juga menginsipirasi berkembangnya Tehrik-i-Taliban Pakistan, kelompok militan sejenis.

Haqqani, mantan duta besar AS yang sekarang menjadi direktur untuk Asia Selatan dan Tengah di Hudson Institute, dalam tulisannya di Foreign Affairs, mengatakan ekstremisme Islam telah memecah masyarakat Pakistan menjadi garis sektarian dan naiknya Islamis Afghanistan di sebelah hanya akan menguatkan radikal di dalam negeri.

 Baca juga: Kisah Perang: Invasi Soviet ke Afghanistan yang Berujung Lahirnya Taliban

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber NRP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.