Kompas.com - 20/08/2021, 08:22 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi
  • Sikap silent treatment alias mengabaikan dan mendiamkan.
  • Menyebarkan desas-desus tentang korban.
  • Menggunakan situs media sosial untuk memposting postingan yang memalukan tentang korban.
  • Meminta gadis lain untuk membuat posting anonim yang berkaitan dengan hal menyakitkan tentang korban.
  • Dengan sengaja tidak mengundang korban dan memastikan bahwa dia tahu bahwa dia tidak diundang.
  • Mengolok-olok korban. Ketika dikatakan tindakannya kejam, pelaku intimidasi akan membalikkan keadaan pada korban dengan mengatakan bahwa dia "terlalu sensitif" atau bahwa mereka "hanya bercanda."
  • Manipulasi. Jika korban melakukan sesuatu yang diinginkan pelaku, pelaku setuju bahwa mereka dapat berteman lagi atau diikutsertakan dalam kegiatan kelompok.
  • Mengejek, Menertawakan, atau menyebut-nyebut nama korban dengan jarak yang dekat.

Nah, apabila anak kita menyebutkan salah satu perilaku yang disebutkan di atas, kemungkinan dia telah menjadi sasaran agresi relasional.

Pastikan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian semua kekhawatirannya sehingga dia tahu bahwa kita memahami kebutuhan dan kekhawatirannya.

Baca juga: Mayoritas Pelaku Perundungan Anak adalah Temannya

Semua bentuk perundungan tentu berdampak buruk pada kesejahteraan emosional.

Berikut adalah tanda-tanda yang perlu kita perhatikan jika yakin putri kita adalah korban intimidasi emosional dan agresi relasional:

  • Sering mengeluh sakit perut.
  • Sakit kepala.
  • Mengisolasi diri.
  • Menolak mengikuti kegiatan ekstra kurikuler, olahraga, dan kegiatan lain yang sebelumnya disukai.
  • Penurunan harga diri yang signifikan dan seringnya pernyataan negatif tentang diri mereka sendiri.
  • Merasa tidak mampu secara sosial.
  • Menghindari sekolah.

Jika kita melihat salah satu tanda atau gejala yang disebutkan di atas, pastikan untuk segera mengatasinya.

Baca juga: Marshanda Cerita Masa Kecilnya, Alami Bullying Sejak SD

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mengatasi tanda dan gejala bullying sejak dini adalah pilihan terbaik untuk ketenangan pikiran dan kesejahteraan emosional anak.

Untuk membantunya, kita sebagai orangtua dapat memulainya dengan mendengarkan  dan validasikan perasaannya dan hal-hal yang dia katakan kepada kita.

Jangan pernah menganggap dia terlalu sensitif dan jangan pernah membuatnya merasa telah berbuat kesalahan atau bahwa dia harus meminta maaf.

Jangan berasumsi bahwa intimidasi pada akhirnya akan hilang atau membaik dengan sendirinya. Sebaliknya, atasi dan bicarakan.

Setelahnya, kita bisa membicarakan permasalahan ini ke guru, lalu melibatkan para pelaku intimidasi untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.

Selain itu, kita juga bisa membawa remaja putri kita untuk menemui konselor untuk membantunya sebagai korban memahami bahwa itu bukan kesalahannya.

Hal ini memungkinkan dia untuk menemukan cara yang aman untuk menegaskan dirinya sendiri dan menerima dukungan yang dibutuhkan.

Baca juga: Tips Jitu Ariel Tatum Jaga Kesehatan Mental Hadapi Cyber Bullying

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber Your Tango
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.