Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Optimisme, Stres, dan Coping Stress di Masa Pandemi Covid-19

Kompas.com - 22/08/2021, 14:05 WIB
Sejumlah calon penumpang mengantre saat pemeriksaan dokumen Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (13/7/2021). Kementerian Perhubungan mengeluarkan aturan soal kewajiban membawa STRP atau surat tugas bagi pengguna KRL Commuterline yang berlaku mulai Senin (13/7/2021) di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAHSejumlah calon penumpang mengantre saat pemeriksaan dokumen Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (13/7/2021). Kementerian Perhubungan mengeluarkan aturan soal kewajiban membawa STRP atau surat tugas bagi pengguna KRL Commuterline yang berlaku mulai Senin (13/7/2021) di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Oleh: Christine Hadinata dan Riana Sahrani

SUDAH satu tahun lebih masyarakat Indonesia dan dunia menghadapi krisis kesehatan yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani penyebaran pandemi tersebut.

Salah satu upaya pemerintah adalah menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Namun, PPKM menyebabkan individu tidak dapat beraktivitas seperti biasa, sehingga menimbulkan masalah kesehatan psikologis pada individu, salah satunya adalah stres.

Berdasarkan International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2020, telah terjadi peningkatan stres selama pandemi yaitu dengan prevalensi stres sedang dan stres tinggi pada individu dibawah usia 25 tahun.

Baca juga: Generasi Sandwich Rentan Alami Masalah Kesehatan Mental, Ini Sebabnya

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selaras dengan hal tersebut, dilansir oleh Journal of Medical Internet Research tahun 2020, terdapat 86 persen stres yang diakibatkan karena penurunan interaksi sosial.

Namun tidak semua orang akan memiliki tingkat stres yang sama, hal ini dikarenakan banyak faktor yang dapat menimbulkan stres.

Perlu diperhatikan bahwa stres tidak dialami pada semua orang. Hal ini dapat disebabkan adanya perbedaan individu dalam menanggapi situasi stres.

Faktor kepribadian, misalnya trait optimistis versus pesimistis menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.

Menurut psikolog Amerika sekaligus peneliti tentang optimisme, yakni Charles S Carver, definisi optimistis adalah sejauh mana individu memiliki harapan positif terhadap masa depan mereka.

Baca juga: Orangtua Perlu Tanggap Kenali Ciri Anak Stres Selama Pandemi

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.