Untar untuk Indonesia
Akademisi

Platform akademisi Universitas Tarumanagara guna menyebarluaskan atau diseminasi hasil riset terkini kepada khalayak luas untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Optimisme, Stres, dan Coping Stress di Masa Pandemi Covid-19

Kompas.com - 22/08/2021, 14:05 WIB
Sejumlah calon penumpang mengantre saat pemeriksaan dokumen Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (13/7/2021). Kementerian Perhubungan mengeluarkan aturan soal kewajiban membawa STRP atau surat tugas bagi pengguna KRL Commuterline yang berlaku mulai Senin (13/7/2021) di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAHSejumlah calon penumpang mengantre saat pemeriksaan dokumen Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Senin (13/7/2021). Kementerian Perhubungan mengeluarkan aturan soal kewajiban membawa STRP atau surat tugas bagi pengguna KRL Commuterline yang berlaku mulai Senin (13/7/2021) di masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.
  1. Emotional focused coping positif, yaitu misalnya mencari dukungan sosial, melakukan kegiatan positif yang dapat membantu suasana hati lebih baik, atau menerima kenyataan secara positif;
  2. Emotional focused coping negatif seperti menolak, berusaha melupakan keadaan, dan lain sebagainya. Problem focused coping merupakan upaya untuk mengurangi stres yang berfokus pada penyelesaikan masalah seperti problem-solving, manajemen waktu, dan lain sebagainya.

Kendala bagi individu yang optimistis apabila menggunakan satu jenis coping stress, yaitu problem-focused coping dalam menghadapi stres terutama di masa pandemi yang tidak kunjung usai dan tidak dapat diubah.

Individu menggunakan problem focused coping secara berkelanjutan tanpa diiringi pergantian jenis coping stress lainnya, yaitu emotional focused coping, sehingga menyebabkan individu tersebut kurang melihat masalah yang sebenarnya.

Baca juga: Pandemi Memicu Gejala Depresi dan Kecemasan pada Anak

Perlu diperhatikan juga tidak ada jenis coping stress yang paling baik, gunakanlah jenis coping yang paling sesuai dengan Anda dan paling sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Perbedaan situasi dapat juga menyebabkan kita harus menggunakan jenis coping stress yang berbeda pula. Jenis coping stress yang berbeda akan memiliki hasil akhir berbeda juga.

Pada salah satu artikel Verywell Mind tahun 2021, problem focused coping membantu individu ketika perlu mengubah situasi, seperti menghilangkan hal stres dari hidup.

Sebagai contoh, jika individu berada dalam hubungan yang tidak sehat, yang membuat individu merasakan kecemasan dan kesedihan. Cara yang mungkin paling baik diselesaikan dengan mengakhiri hubungan (bukan menenangkan emosi).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Adapun emotional focused coping membantu ketika individu perlu menangani perasaan atau tidak ingin mengubah situasi seperti pada saat keadaan tersebut berada di luar kendali.

Misalnya, jika Anda berduka karena kehilangan orang yang dicintai, penting untuk menangani perasaan dengan cara yang positif (karena keadaan tersebut tidak dapat diubah).

Baca juga: Ciri-ciri Anak Remaja Alami Stres di Masa Pandemi dan Solusinya

Selaras dengan hal tersebut berdasarkan Michael Scheier, seorang profesor psikologi di Carnegie Mellon University -- dalam Journal of Personality and Social Psychology tahun 1987-- mengatakan, langkah sebaiknya yang dilakukan agar efektif dalam mengatasi masalah dengan menggunakan dua bentuk coping (emotional-focused positif dan problem focused).

Sebagai contoh pada saat menghadapi stres berkepanjangan seperti masa pandemi, dapat melakukan emotional focused coping yang positif seperti melakukan kegiatan yang disukai, bercerita kepada teman terdekat, meditasi, dan lainnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.