Kompas.com - 23/08/2021, 09:55 WIB

KOMPAS.com - Selebritas Tanah Air, Deddy Corbuzier kembali menjadi buah bibir menyusul pengakuannya yang nyaris meninggal dunia ketika terinfeksi Covid-19.

Kondisi kritis mantan mentalis ini disebabkan badai sitokin yang membuat kerja organ tubuhnya memburuk.

Deddy menyebutkan, kerja paru-parunya bahkan turun hingga 60 persen, hanya dalam tempo dua hari.

Baca juga: Cerita Deddy Corbuzier Alami Badai Sitokin dan Kritis karena Covid-19

Pria yang dikenal punya gaya hidup sehat ini mengatakan, badai sitokin mendera ketika dia sudah dinyatakan negatif dari infeksi Covid-19.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Deddy Corbuzier, Ph.D (@mastercorbuzier)

"Saya sakit.. Kritis, hampir meninggal karena badai cytokine, lucu nya dengan keadaan sudah negatif. Yes it's covid," tulis Deddy via akun media sosialnya.

Hal serupa pernah dialami mendiang Raditya Oloan, suami artis sinetron Joanna Alexandra.

Pria yang dikenal sebagai pendeta tersebut meninggal dunia karena tak mampu melalui badai sitokin, meski sudah negatif Covid-19.

Baca juga: Raditya Oloan Sempat Alami Badai Sitokin Sebelum Meninggal, Apa Itu?

Lantas, apa penyebab badai sitokin bisa terjadi pada tubuh penyintas Covid-19?

RA Adaninggar,dr,SpPD, spesialis penyakit dalam yang aktif memberikan edukasi di media sosial memberikan pandangannya.

Dia mengatakan, badai sitokin pada pasien Covid-19 adalah suatu reaksi sistem imun yang berlebihan dan tidak terkontrol terhadap virus.

"Reaksi sistem imun yang berlebihan ini tidak hanya akan membunuh virus, namun juga bisa menimbulkan keradangan yang menyebabkan kerusakan organ tubuh inang," tulis dia melalui akun Instagram, @drningz.

Dampak virus Corona pada setiap orang memang bisa berbeda-beda, dan terkadang efeknya tidak bisa diprediksi.

Ada orang yang tidak mengalami gejala sama sekali, seperti yang dialami Deddy Corbuzier. Namun, ada juga yang mengalami gejala ringan atau langsung sakit parah karenanya.

Namun, semua berisiko mengalami pemburukan jika tidak ditangani dengan tepat.

Baca juga: Sudah Negatif Covid-19 tapi Kritis, Raditya Oloan Alami Long Covid?

Sebagian orang yang terinfeksi Covid-19 akan mengalami suatu reaksi imun berlebih pada fase II, pulmonary phase dan fase III, serta hyperinflamation.

Pada fase-fase inilah peradangan mulai mendominasi dibandingkan virusnya.

"Justru pada fase ini viral load virus sudah menurun, kadang swab PCR sudah negatif, namun keradangan masih berlangsung terus-menerus."

"Oleh karena itu sering dianggap sembuh padahal belum," ujar Ninggar. 

Peradangan yang masih terjadi bisa berakibat pada kerusakan banyak organ, hingga kematian mendadak akibat pembekuan darah.

Hal ini bisa terjadi pada pasien meskipun hasil swab PCR menunjukkan sudah negatif Covid-19.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by RA Adaninggar,dr,SpPD (@drningz)


 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.