Kompas.com - 30/08/2021, 08:48 WIB
Tenaga kesehatan melakukan perawatan terhadap pasien Covid-19 diruang ICU di RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja menjadi rumah sakit (RS) khusus untuk pasien virus corona (Covid-19) sesuai surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemkes). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGTenaga kesehatan melakukan perawatan terhadap pasien Covid-19 diruang ICU di RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa (29/6/2021). Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja menjadi rumah sakit (RS) khusus untuk pasien virus corona (Covid-19) sesuai surat edaran Kementerian Kesehatan (Kemkes).

KOMPAS.com – Salah satu kondisi yang ditakutkan oleh pasien Covid-19 adalah terjadinya badai sitokin sebab bisa menyebabkan kematian.

Pada dasarnya badai sitokin merupakan pelepasan sitokin yang berlebihan oleh tubuh sehingga merusak organ tempat terjadinya reaksi kekebalan tubuh.

Jika berlangsung di paru, menyebabkan sindrom kesulitan pernapasan akut (ARDS)dan menyebabkan kegagalan multiorgan sehingga terjadi kematian.

Dijelaskan oleh dr.Jeffri Aloys Gunawan Sp.PD, reaksi sitokin ini tidak hanya terjadi pada pasien Covid-19 saja tetapi juga penyakit lain.

Dokter Jeffri Aloys Gunawan Sp.PDDok pribadi Dokter Jeffri Aloys Gunawan Sp.PD
“Badai sitokin sebenarnya adalah reaksi tubuh yang normal terjdi, tetapi mengalami sesuatu sehingga terlalu hebat. Ibaratnya ada maling, tetapi orang yang ingin menangkap berkerumun terlalu banyak sehingga menimbulkan kekacauan baru,” ujar dokter yang akrab disapa dr.Jeff ini dalam acara IG Live yang diadakan oleh Good Doctor (Sabtu 28/8/2021).

Dia menjelaskan, badai sitokin merupakan fase ketiga dari perjalanan penyakit infeksi Covid-19 dan yang paling ditakutkan.

Baca juga: Deddy Corbuzier Sudah Negatif Covid-19 tapi Alami Badai Sitokin, kok Bisa?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Karena susah sekali penanganannya dan bisa menimbulkan kerusakan organ dalam yang tidak bisa kembali, bahkan kematian langsung,” ujar dokter penyakit dalam yang juga melayani telemedicine di aplikasi Good Doctor ini.

Meski demikian, tidak semua pasien Covid-19 akan mengalami badai sitokin. Menurut dokter Jeff, hal ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik.

“Ini dialami kalau seseorang punya faktor genetic yang mengandung penyakit HLH (Hemophagocytic lymphohistiocytosis) yaitu penyakit yang menyebabkan disregulasi sel-sel darah putih. Jadi seharusnya sel-sel darah putih tidak berlebihan, namun dicetuskan oleh infeksi Covid dan menyebabkan kerusakan berlebihan,” paparnya.

Dengan kata lain, jika kita tidak punya riwayat genetic gangguan sel darah putih maka risiko terjadinya badai sitokin sangat rendah.

Ia mengatakan, menurut data ada sekitar 10-15 persen orang yang mengalami gejala berat akibat badai sitokin dan 3 persen di antaranya meninggal dunia.

Baca juga: Kerusakan Organ akibat Badai Sitokin, Bisakah Disembuhkan?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.