Kompas.com - 02/09/2021, 09:28 WIB

KOMPAS.com - Sebuah kasus dugaan pelecehan terhadap seorang pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat berinisial MS sedang menjadi perbincangan hangat, terutama aplikasi percakapan WhatsApp.

Dugaan pelecehan seksual di KPI itu kemudian viral di media sosial.

Seperti diberitakan Kompas.com (01/09/2021), MS menulis dalam keterangan tertulisnya bahwa dia mengalami perundungan (bullying) dan pelecehan seksual dari beberapa rekan satu kantornya sejak 2012 hingga 2017.

Melalui keterangan tersebut, MS meminta pertolongan Presiden Joko Widodo, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Menko Polhukam Mahfud MD dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk membantu menyelesaikan perkaranya itu.

"Pak Jokowi, Pak Kapolri, Menkopolhukam, Gubernur Anies Baswedan, tolong saya. Sebagai warga negara Indonesia bukankah saya berhak mendapatkan perlindungan hukum? Bukankah pria juga bisa jadi korban bully dan pelecehan? Mengapa semua orang tak menganggap kekerasan yang menimpaku sebagai kejahatan dan malah menjadikannya bahan candaan?” tulis MS.

"Usai lapor atasan, mengapa pelaku tidak disanksi? Seperti inikah lingkungan kerja di KPI Pusat?” lanjutnya.

Baca juga: Kabar Dugaan Pelecehan Seksual Viral di Medsos, KPI Segera Investigasi

Pria juga bisa jadi korban pelecehan seksual

MS bukanlah satu-satunya pria yang menjadi korban pelecehan seksual. Meski kasus pelecehan seksual terhadap wanita cenderung lebih sering kita dengar, namun ada beberapa faktor yang membuat kasus pelecehan seksual terhadap pria sering kali tak terekspos.

Mengutip pemberitaan Kompas.com (06/04/2021), stigma yang berkembang di masyarakat membuat banyak korban pria ragu untuk melaporkan kejadian yang dialaminya.

Padahal, pelecehan seksual adalah tindakan serius yang bisa menyebabkan trauma mendalam pada korban.

Biasanya pria korban pelecehan seksual jarang melapor karena takut dianggap lemah dan tidak mendapatkan dukungan yang tepat. Tak jarang mereka malah menjadi bahan olok-olok, bukan simpati dan pertolongan seperti seharusnya.

Hal ini juga diceritakan oleh MS melalui keterangan tertulisnya. Sempat mendatangi polisi, laporan MS malah tidak ditanggapi serius. Respons serupa didapatkannya ketika mengadukan apa yang dialaminya kepada atasan. Tanpa mengusut atau memberi sanksi pada terduga pelaku, atasan MS hanya memindahkan ruang kerjanya dan itu membuat kasus perundungan yang dialaminya malah semakin parah.

Ilustrasi hentikan tindakan perundungan (bullying).FREEPIK/JCOMP Ilustrasi hentikan tindakan perundungan (bullying).
Salah satu data tentang pelecehan seksual terhadap pria di tempat kerja dirilis oleh Laporan Equal Employment Opportunity Commission (EEOC).

Lembaga perlindungan pegawai di Amerika Serikat ini menyebutkan 17,1 persen dari 6.822 klaim pelecehan seksual pada 2015 diajukan oleh pria.

Bentuknya bisa berupa ajakan yang tidak diinginkan, julukan seksual yang menyinggung dan paksaan untuk kencan. Pelakunya juga bukan hanya sesama pria, tetapi juga dari kalangan wanita. Selain dari rekan kerja, pelecehan seksual juga bisa dilakukan oleh atasan di kantor.

Lebih jauh, pelecehan seksual sesama pria juga bisa mencakup perpeloncoan berbasis seksual yang dampaknya bisa sama buruknya.

Data lainnya misalnya laporan berjudul The National Intimate Partner and Sexual Violence Survey (NISVS) yang dirilis pada tahun 2010. Mengutip Kompas.com (07/01/2021), laporan tersebut menunjukkan statistik mencengangkan seputar kekerasan seksual terhadap pria di Amerika Serikat.

Empat fakta yang dipaparkan antara lain:

1. Setiap satu dari 71 pria diperkosa dalam kehidupan mereka.

2. 52,4 % korban pria melaporkan diperkosa oleh seorang kenalan dan 15,1 % oleh orang asing.

3. 35 % pria melaporkan dampak jangka pendek atau jangka panjang yang signifikan, seperti PTSD.

4. 27,8 % pria berusia 10 tahun atau lebih muda ketika mereka menjadi korban kekerasan seksual untuk pertama kalinya

Baca juga: Banyak Korban Pelecehan Seksual Pilih Diam, Ini Penjelasan Psikolog

Banyak korban tak "speak up"

Mengutip pemberitaan Kompas.com (09/06/2021), pada banyak kasus korban memilih diam atau tidak "speak up" tentang kasus pelecehan seksual yang dialaminya.

Menurut psikolog klinis dari Personal Growth, Ni Made Diah Ayu Anggreni, MPsi, korban pelecehan seksual dapat mengalami depresi, kepercayaan diri rendah, trauma, ketakutan, hingga kesulitan menjalin relasi yang intim.

Selain itu, sebagian besar korban memilih diam dan menyimpan masalah itu sebagai rahasia.

Alasannya, kata dia, banyak korban merasa malu, bersalah, menyalahkan diri sendiri, serta takut dijauhi dan dikucilkan.

"Sehingga untuk dapat berbicara, bahkan pada orang terdekat, membutuhkan keberanian."

"Apakah ingin berbicara kepada satu kelompok atau seratus orang, dibutuhkan keberanian yang sangat besar untuk menceritakan kisah Anda, berani untuk terbuka," tuturnya.

Dalam kasus MS, dia juga sempat menyimpan cerita tentang kasus yang dialaminya dan sering menyendiri. Pada akhirnya, setelah berdiskusi dengan temannya yang seorang pengacara dan aktivis LSM, MS pun memberanikan diri membuka ceritanya ke publik.

Baca juga: Speak Up Bisa Bantu Korban Pelecehan Seksual Hadapi Masalahnya

Membantu pria korban pelecehan seksual

Mengutip Kompas.com (07/01/2021), jika memiliki teman atau kerabat pria yang pernah mengalami pelecehan atau kekerasan seksual dan dia ingin mengungkapkannya pada kita, beberapa hal yang perlu kita lakukan antara lain:

  • Mendengarkan

Banyak korban merasa tidak ada yang mau mendengar dan menanggapi secara serius apa yang mereka ceritakan.

Tunjukkan kepada mereka bahwa kita mau memberikan perhatian penuh dan menganggap kasus mereka sangat penting.

  • Memvalidasi perasaan mereka

Hindari membuat pernyataan yang terlalu positif atau mencoba mengelola emosi mereka.

Buat pernyataan seperti "saya percaya kamu" atau "itu terdengar seperti hal yang sangat sulit untuk dihadapi."

  • Memberi perhatian secara jelas

Katakan secara langsung kepada mereka bahwa kita benar-benar peduli dan perhatian dengan kalimat seperti "aku di sini untukmu jika mau bercerita."

Jangan bertanya secara detail meskipun kita mungin penasaran.

Selain itu, jangan pernah tanyakan detil kejadian kekerasan seksual padanya kecuali jika mereka sendiri yang menceritakannya.

Coba dengarkan mereka dan tunjukkan bahwa kita mendukung, bukan menghakimi.

Baca juga: Orang Dekat Jadi Korban Pelecehan Seksual, Bagaimana Menanggapinya?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Kompas.com
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.