Kompas.com - 04/09/2021, 11:25 WIB
Ilustrasi narkoba KOMPAS.COM/TOTO SIHONOIlustrasi narkoba

KOMPAS.com - Metode konsumsi sabu via anal alias booty bump viral di media sosial karena kasus penyalahgunaan narkoba yang menjerat Coki Pardede.

Cara ini tergolong tidak lazim dan belum begitu populer di masyarakat Indonesia, tetapi sudah banyak dipraktikkan di luar negeri.

Teknik yang juga disebut boofing ini bukan hanya dilakukan untuk sabu, melainkan juga heroin, kokain, dan alkohol. Cara ini dilakukan untuk mendapatkan sensasi high yang jauh lebih cepat dibandingkan metode suntik atau dibakar.

Booty bump kebanyakan dilakukan dengan mencampur sabu dengan air dan disuntikkan ke anus. Ada pula yang menggunakan injektor pelumas atau hanya dengan sekadar memasukkan sabu ke lubang anus.

Cara ekstrem ini menandakan seseorang sudah begitu kecanduan dengan obat terlarang. Sayangnya, ada risiko kesehatan yang harus dihadapi jika terbiasa mempraktikkan metode booty bump ini.

Baca juga: 3 Jenis Narkoba Paling Bikin Kecanduan, Sabu-sabu Termasuk

Apa saja ancaman kesehatannya?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

  • Kerusakan anus

Booty bump dapat merusak jaringan rektum dan robekan anus jika dilakukan terlalu sering. Kontak dengan benda asing ini akan membuat area tersebut terluka dan tidak mendapatkan cukup waktu untuk menyembuhkan diri.

Kondisi ini dapat risiko penularan HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS), khususnya jika mempraktikkan seks anal. Selain itu, kondisi ini akan menyebabkan rasa sakit di bagian anus dan bokong.

Baca juga: Hati-Hati, Ini 4 Bahaya Seks Anal

  • Gangguan kesehatan serius

Kebiasaan booty bump dapat menyebabkan gangguan pada sistem pembuangan seseorang. Misalnya saja tinja berdarah, perasaan terus-menerus perlu pergi ke kamar mandi, dan ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar.

Masalah kesehatan yang lebih serius juga mungkin terjadi seperti penyumbatan aliran darah ke bagian usus dan kematian sel yang tidak wajar.

Dalam kasus yang parah, seseorang mungkin akan membutuhkan tindakan kolostomi, yakni operasi pembuatan lubang buatan di perut untuk menggantikan kerja usus besar yang sudah rusak.

Baca juga: Fakta Penangkapan Coki Pardede dan Video Lawasnya yang Kini Jadi Sorotan

  • Kecanduan makin parah

Rongga anus memiliki banyak kapiler dan lapisan permukaan yang tipis sehingga sabu lebih mudah diserap dibandingkan cara konsumsi oral.

Efek sampingnya, pengguna akan semakin ketergantungan dengan menambah jumlah dosisnya. Beberapa orang mungkin mengambil dosis yang lebih banyak dibandingkan dosis oral tanpa menyadari bahwa jumlahnya terlalu banyak.

Karena tingkat penyerapan yang cepat, efek penggunaan sabu melalui boofing juga lebih tinggi dan intens. Tentunya ini meningkatkan risiko overdosis yang bisa merenggut nyawa penggunanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.