Kompas.com - 07/09/2021, 16:24 WIB
Terdakwa kasus suap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Saipul Jamil, bersiap menjalani sidang vonis di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (31/7). Majelis Hakim memvonis penyanyi dangdut tersebut dengan hukuman tiga tahun penjara serta denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/17. ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANTerdakwa kasus suap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Saipul Jamil, bersiap menjalani sidang vonis di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (31/7). Majelis Hakim memvonis penyanyi dangdut tersebut dengan hukuman tiga tahun penjara serta denda Rp100 juta subsider tiga bulan kurungan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/kye/17.

KOMPAS.com - Media sosial diramaikan dengan kecaman publik pada glorifikasi atas kebebasan Saipul Jamil.

Pelaku pelecehan seksual pada anak di bawah umur itu dengan mudahnya kembali tampil di televisi nasional pascakeluar dari penjara. Kehadirannya tentu menjadi contoh buruk untuk penegakan kasus pelecehan seksual di Indonesia.

Kritik pedas, boikot dan kecaman yang dilontarkan publik kemudian membanjir. Muncul pula petisi yang menolak kehadiran penyanyi dangdut itu televisi dan ditandatangani oleh ribuan orang.

Kehebohan yang terjadi tentu membuat anak berisiko besar terpapar informasi soal kasus ini. Sudah selayaknya, orangtua memberikan penjelasan yang tepat sekaligus pembelajaran berkaca dari kasus ini.

Baca juga: Komnas PA Ajak Masyarakat Matikan TV jika Lihat Saipul Jamil

Lucia Peppy Novianti, M. Psi., psikolog dari Universitas Gadjah Mada mengataka anak pasti penasaran dan kemungkinan mengakses informasi soal pelaku maupun kasus yang jadi akar pangkal masalah.

Orangtua perlu bijak menyikapi kondisi tersebut dengan menjadikannya momen untuk mengajarkan soal edukasi seksual.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini bisa jadi jalan masuk untuk kita mengajak dan semakin menguatkan anak remaja membangun kewaspadaan diri lewat pendidikan seksualitas," jelasnya pada Kompas.com, Selasa (07/09/2021).

Ajarkan kepada anak bahwa ada orang-orang di luar sana yang tidak bertanggungjawab dan memiliki keinginan untuk menyakiti pihak lain.

Tujuannya agar anak bisa melihat situasi ini dan mempertimbangkan risiko hal tersebut dapat terjadi pada diri mereka.

Kita disarankan menyampaikan kepada anak beberapa hal yang penting dalam unsur kewaspadaan sebagai perlindungan diri.

Baca juga: Hentikan Glorifikasi terhadap Saipul Jamil, Hapus Normalisasi Kekerasan Seksual

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.