Kompas.com - 08/09/2021, 06:00 WIB
Dua jam tangan Grand Seiko GMT yang menggunakan 9F86 Caliber quartz movement alias mesin kuarsa. VIA APETOGENTLEMENTDua jam tangan Grand Seiko GMT yang menggunakan 9F86 Caliber quartz movement alias mesin kuarsa.

KOMPAS.com - Perdebatan mengenai keunggulan jam tangan mekanis (otomatis) dan jam tangan kuarsa (quartz) sudah terjadi sejak lama.

CEO merek jam tangan Bulova, Michael Benavente mengatakan, ada pepatah yang menyebutkan jika pemilik jam tangan kuarsa sangat mendambakan jam tangan mekanis.

Begitu kita sudah mempunyai jam tangan mekanis, maka bisa dipastikan kita akan menganggap jam tangan kuarsa tidak berharga.

Baca juga: Jam Tangan Favorit Nick Jonas, Harganya Lebih dari 15 Tahun Gaji

Namun menurut Benavente, semua ini adalah propaganda yang dilakukan watchmaker dari jam tangan mekanis karena merasa takut akan "ancaman" dari jam tangan kuarsa.

Perlu diketahui, sebelum teknologi kuarsa hadir ke dunia, orang hanya mengenal satu jenis jam tangan, yakni jam tangan mekanis atau otomatis.

Baru pada sekitar akhir era 1960-an, teknologi kuarsa pun muncul dibawa oleh pembuat jam yang rata-rata berasal dari Asia.

Hal ini menyebabkan pergolakan di industri jam tangan yang dikenal dengan sebutan revolusi kuarsa atau krisis kuarsa.

Jam tangan dengan teknologi kuarsa menggunakan motor elektrik melalui kristal kuarsa untuk menggerakkan penanda waktu.

Artinya, pembuat jam tidak memerlukan banyak bagian atau komponen untuk disematkan ke dalam jam tangan.

Baca juga: Bahan Logam Kuno di Jam Tangan Urwerk UR-100 Electrum

Dengan demikian, biaya produksi jam tangan kuarsa lebih murah dibandingkan jam tangan mekanis.

Desain jam tangan kuarsa umumnya menjadi lebih tipis dibanding jam tangan berteknologi mekanis yang membutuhkan lebih banyak komponen.VIA APETOGENTLEMENT Desain jam tangan kuarsa umumnya menjadi lebih tipis dibanding jam tangan berteknologi mekanis yang membutuhkan lebih banyak komponen.

Ketika jam tangan kuarsa diproduksi secara massal dengan harga yang lebih murah, banyak pembuat jam tangan mekanis saat itu yang kebakaran jenggot.

Produsen jam tangan mekanis tetap bertahan dengan teknologi mekanis yang tradisional, tidak mau merangkul teknologi kuarsa yang lebih ekonomis.

Namun, tidak semua watchmaker yang kerap merilis jam tangan mekanis menolak mentah-mentah teknologi kuarsa.

Mesin kuarsa masih dipakai di beberapa model jam tangan yang diciptakan Omega, Grand Seiko, Breitling, Piaget, dan Longines.

Baca juga: Menunjukkan Fase Bulan, Ini Keistimewaan Jam Tangan Moonphase

Bahkan pembuat jam independen semacam Francois-Paul Journe tidak terpaku untuk mendesain jam tangan dengan mesin mekanis.

Teknologi kuarsa menawarkan beberapa keuntungan. Seperti yang sudah dijelaskan di awal, arloji kuarsa tidak memerlukan banyak komponen.

Dengan keunggulan itu, membuat rata-rata jam tangan kuarsa memiliki desain yang ramping.

Lalu, teknologi kuarsa juga menawarkan keakuratan waktu. Baterai jam tangan kuarsa akan mengalirkan arus ke sirkuit agar kristal kuarsa dapat bergetar sebanyak 32.768 kali per detik.

Sirkuit tersebut mengonversikan 32.768 getaran menjadi hitungan satu detik.

Inilah yang membuat jam tangan bermesin kuarsa lebih canggih dalam hal teknologi. Desain jam tangan kuarsa juga cenderung lebih modern.

Jika kita mencari keakuratan waktu dalam sebuah jam tangan, bisa dibilang tidak ada satu pun jam tangan mekanis yang mampu mendekati atau bahkan menyamai kemampuan jam tangan kuarsa.

Masalahnya, arloji kuarsa kerap dianggap sebagai jam tangan "murahan".

Karena teknologi kuarsa lebih mudah diakses dan dijangkau, siapa saja dapat merancang jam tangan jenis itu.

Jadi, tidak harus merek sekelas Omega yang mengutamakan ketelitian dalam membuat jam.

Kasarnya, kita dapat dengan mudah menemui jam tangan kuarsa yang dibuat oleh merek tidak terkenal dijual di pinggir jalan. Dan citra ini sulit untuk dihilangkan.

Baca juga: Memahami Jenis-jenis Jam Tangan Mekanis yang Membuatnya Istimewa

Beberapa pihak menilai jika embel-embel "kuarsa" perlu diganti dengan kata atau nama lain agar tidak terkesan murahan.

Langkah inilah yang dilakukan pembuat jam asal Inggris, Fears. Pada tahun 2016, merek tersebut merancang jam tangan Redcliff Date.

Di bagian dial tersebut -tepatnya di dekat indikator angka enam, tercantum teks "Electronic Oscillator", alih-alih menggunakan kata "Quartz".

Penampang mesin dari salah satu produk Grand Seiko yang menggunakan teknologi kuarsa.VIA APETOGENTLEMENT Penampang mesin dari salah satu produk Grand Seiko yang menggunakan teknologi kuarsa.

Penggunaan istilah electronic oscillator pada jam tangan itu dipandang lebih seksi, dan pada akhirnya banyak orang mau belajar memahami betapa menakjubkannya arloji dengan mesin kuarsa.

Di sisi lain, industri jam tangan Swiss cenderung mengutamakan gerakan mekanis yang berada di bagian dalam, tanpa memedulikan desain cangkang dan dial atau "wajah" jam tangan.

Sebagian orang --terutama kolektor jam tangan-- sangat mengagumi keindahan gerakan mekanis yang mencerminkan kualitas pembuat jam dalam menciptakan kerajinan tangan yang penuh ketelitian.

Baca juga: Memahami Jenis-jenis Jam Tangan Mekanis yang Membuatnya Istimewa

Tetapi gerakan mekanis yang rumit tersebut agak sulit untuk dilihat, kecuali jika bagian cangkang belakang dibuat transparan.

Juga, ketika kita memakai jam tangan dalam sebuah acara, orang pasti akan melirik dan menilai model atau penampakan arloji itu terlebih dahulu, bukan menanyakan seperti apa mesinnya.

Bila diibaratkan, jam tangan mekanis adalah item yang membangkitkan nostalgia individu, di mana individu tersebut merindukan masa lalu yang nyatanya tidak pernah dia alami.

Hal itu sama seperti kita yang mengagumi karya-karya The Beatles di era 70-an, dan merasa nostalgia begitu salah satu lagu The Beatles diputar di radio. Padahal, kita belum lahir ketika John Lennon masih hidup.

Ironisnya, perasaan nostalgia akan jam tangan mekanis menjadikan beberapa pihak angkuh dan menganggap arloji mekanis lebih keren daripada jam tangan kuarsa yang lebih praktis dan modern.

Alih-alih mengakui jam tangan mekanis sudah ketinggalan zaman, sejumlah perusahaan kelas atas justru berlomba menciptakan arloji mekanis yang lebih presisi guna menyaingi jam tangan kuarsa.

Baca juga: 484 Permata Bernuansa Pelangi pada Jam Tangan Baru Hublot

Pada akhirnya, arloji mekanis mustahil untuk menyamai atau bahkan mengungguli jam tangan kuarsa dalam hal kecanggihan teknologi.

Lalu, dengan hadirnya jam tangan pintar (smartwatch) yang diluncurkan merek seperti Apple, Samsung, dan Xiaomi, otomatis arloji mekanis semakin terlihat kuno.

Industri jam tangan Swiss boleh saja menyajikan gagasan bahwa jam tangan mekanik memiliki nilai lebih ketimbang jam tangan kuarsa.

Namun pada kenyataannya, ada hal lain yang dicari oleh penggemar jam, yakni kepraktisan dan keakuratan waktu, yang hanya bisa ditemui pada arloji kuarsa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.