Kompas.com - 21/09/2021, 16:33 WIB
Founder unkl347 dan Dendy & Darman Studio, Dendy Darman saat wawancara program Beginu di studionya di Bandung, Senin (13/9/2021). KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOFounder unkl347 dan Dendy & Darman Studio, Dendy Darman saat wawancara program Beginu di studionya di Bandung, Senin (13/9/2021).
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com – Banyak yang mengatakan bahwa kesuksesan datang dari sebuah rencana yang matang.

Namun Dendy Darman, pendiri dari salah satu brand distro asal Bandung, unkl347, sekaligus pendiri dan perancang dari Dendy Darman Studio (DDS), bisa tetap sukses tanpa rencana. Bahkan, kini ia telah berhasil membangun rumah untuk teman-temannya.

Gak pernah punya rencana. Dari dulu nggak pernah punya rencana,” ujarnya dalam wawancara bersama Pemimpin Redaksi Kompas.com Wisnu Nugroho dalam program Beginu di kanal YouTube Kompas.com.

Dendy yang kini telah terjun ke dunia desain dan arsitektur hunian bersama DDS ini mengatakan bahwa sejak muda, dirinya selalu bekerja dengan perasaan, tanpa ada perhitungan.

Kendati demikian, di usianya yang akan menginjak 50 tahun, Dendy mengatakan kalau ia mulai memikirkan tentang manajemen dan perencanaan bagi perusahaan yang didirikannya,

“Harus bisa adaptasi dan tahu diri aja sih. Manajemen kan dibutuhkan untuk sustainability,” katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurutnya, di umurnya yang tak lagi muda, sudah cukup banyak yang tidak bisa lagi dilakukannya, termasuk melakukan sesuatu tanpa perencanaan.

“Hidup tanpa perencanaan berisiko kalau udah tua. Selama masih muda, ya gue menganut tanpa rencana. Sebab tanpa rencana itu ceritanya lebih banyak dan nggak bisa lo tebak,” ujarnya.

Dendy juga mengakui, selain untuk lebih menyayangi dirinya di usia yang tak lagi muda, memulai meninggalkan hidupnya yang semula tanpa perencanaan itu dilakukannya demi rekan-rekan kerjanya.

Ia juga mengumpamakan kalau sewaktu muda, ia seperti sebuah mobil kecil yang ringkas, sementara di umurnya kini, ia merasa menjadi sebuah bus.

“Sekarang kayak bus yang bawa orang-orang banyak di dalamnya. Perlu tanggung jawab. Dan orang-orang itu gua bikin untuk kertegantungan sama gua,” kata Dendy.

Dendy merasa bahwa rekan kerjanya tidak perlu mengalami ketidakpastian dalam hidup seperti dirinya, meski dia mengakui bahwa dalam salah satu dari dua tim yang dibentuknya, yaitu tim grafis, masih banyak belajar dengan ketidakpastian, berbeda dengan tim industri-nya yang telah memiliki sistem manajemen yang baik.

“Tapi mereka tetap bisa bekerjasama. Karena kreativitas tanpa industri juga akan gitu aja, begitu pula sebaliknya,” ujarnya.

Tentang brand lokal saat ini

Sebagai salah satu sosok yang mempopulerkan distro pada tahun 90-an, Dendy pun berkomentar soal brand lokal saat ini.

Menurutnya, di zaman yang sudah praktis ini, ia ikut senang dan merasa diuntungkan.

Dendy mengatakan bahwa saat ia membangun karirnya di bidang clothing line, situasinya serba sulit dan terbatas. Dan ketika usaha yang dirintisnya sudah mulai membesar, baru banyak vendor yang membantunya.

“Tapi nggak pernah sakit hati. Belum saatnya saja waktu itu. Gak bisa salahin mereka, mereka kan industri, wajar nggak bantu dari awal,” katanya.

Dendy mengatakan bahwa dulu ia memang melakukan segala sesuatunya dari nol.

“Misalnya, cara bikin baju dari awal sampai jadi tuh bagaimana. Dulu cuma bikin t-shirt satu, kalau salah ya bahannya pakai lagi. Itulah kenapa sampai sekarang 347 kaosnya pakai satu warna saja, agar sampai pesannya,” ujar Dendy.

Tentang industri hunian dan arsitektur

Dendy juga membagikan kisahnya soal dunia industri hunian yang kini ditekuninya.

Menurutnya, awal karirnya di dunia industri hunian itu sangat sederhana. Ia hanya ingin membuatkan rumah bagi teman-temannya yang kesulitan, atau rumah bagi temannya yang punya uang, namun bingung harus diapakan.

Berangkat dari keinginanannya itulah, Dendy yang sebenarnya merupakan seniman seni rupa grafis ini menggandeng beberapa arsitek untuk bekerja bersama.

Ia juga mengatakan bahwa ketertarikannya pada dunia arsitektur diawali oleh keinginan untuk membuat hal-hal yang dapat memenuhi kebutuhannya.

Setelah itu, bersama teman-teman arsiteknya, Dendy mulai membuat rumah-rumah kecil dan modul-modul kecil yang pada akhirnya mampu membuat teman-temannya yang tidak punya rumah bisa memiliki rumah.

"Ya sebenarnya bikin ini juga nggak pakai rencana dulu sih," ujarnya tentang industri yang kini ditekuninya itu.

Kini, Dendy masih berusaha untuk menggandeng developer besar untuk membangun rumah murah. Ia mengaku manajemen-nya kurang bagus, sehingga developer besar pun dibutuhkan.

Selain rumah, DDS juga tengah bekerjasama dengan Explore, sebuah yayasan penggalangan dana yang tengah mengadakan program pembangunan masjid di Indonesia.

“Tahun ini ada kerjasama dengan Explore, dapat amanah membuat desain masjid. Nantu, kita ngedesain masjidnya harus bagaimana, sesuai dengan posisinya. Misalnya kalau di pelosok harus bagaimana, atau kalau di kota harus bagaimana,” ujar Dendy.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.