KOMPAS.com – Saat menginjak usia remaja, tak jarang mood anak pun naik-turun. Terkadang ia terlihat bahagia, lalu beberapa saat kemudian, ia sangat marah hingga membanting pintu.
Memang, tak aneh jika anak remaja mengalami meltdown. Banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, seperti pubertas, stres karena nilai yang buruk, atau mengalami masalah dengan teman-teman mereka.
Di saat inilah, orangtua perlu membantu anak dalam menghadapi meltdown yang dialaminya.
Namun, orangtua pun perlu berhati-hati saat menangani anak remaja yang tengah meltdown. Sebab, meski terdapat solusi yang tepat dalam menanganinya, ada beberapa hal yang bisa memperparah meltdown anak.
Baca juga: Anak Pra-Remaja Memberontak, Apa yang Harus Dilakukan?
Berikut ini, ada tiga hal yang tidak boleh dilakukan dan yang bisa dilakukan orangtua saat anak meltdown.
Jangan marah pada anak
Marah, menghina, atau mengejek anak remaja saat ia merasa emosi hanya akan membuat masalah semakin parah.
Beberapa kalimat teguran, atau meminta agar mereka “bersikap dewasa” akan melukai hati anak dan memperparah meltdown. Ingat, meski merasa kesal, jangan pernah membuat anak semakin sakit hati.
Baca juga: 7 Tanda Anak Remaja Sedang Mencari Jati Diri
Memperparah masalah atau mengancam
Orangtua cenderung mengeluarkan ancaman atau memberikan ultimatum dengan harapan anak akan tenang. Meski kadang berhasil, itu bukan strategi terbaik untuk digunakan ketika anak remaja mengalami meltdown.
Sebab, tingkat stres tinggi, emosi bergejolak dan mengatakan sesuatu akibat marah dapat membuat hubungan orangtua dan anak meregang.
Para ahli juga mengatakan bahwa mengancam juga akan membuat anak salah paham. Mereka kelak akan meniru memakai ancaman untuk menyelesaikan masalah, bukannya berkomunikasi.
Baca juga: 5 Cara Menghindari Kebiasaan Mengancam Anak
Jangan mengambil alih masalah
Beberapa orangtua terkadang mencoba menyelamatkan anak dari meltdown dengan langsung mengambil alih masalah anak guna mengurangi masalah mereka.
Padahal, ini bukan taktik yang efektif, sehingga sebaiknya dihindari. Bahkan, jika orangtua ingin yang terbaik bagi anaknya, ingatlah bahwa memikirkan hal logis pada saat stres tinggi hampir tidak berguna.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.