Kompas.com - 24/09/2021, 07:30 WIB
Ilustrasi menggunakan media sosial Shutterstock/Cristian DinaIlustrasi menggunakan media sosial

Barangkali saya sudah termasuk generasi yang tidak ‘nyambungan’ lagi di masa sekarang. Lebih tepatnya bingung, dalam proses menyampaikan suatu pemahaman bagi komunitas yang usianya masih separuh dari saya.

Ketika saya diminta membuat pesan edukasi singkat yang berdurasi satu menit, rasanya jauh lebih frustrasi ketimbang membuat artikel penuh seperti ini.

Ketika saya tanya: Kenapa sih harus satu menit? Kenapa harus video? Dijawab: karena generasi baru ini tidak suka bertele-tele, mau yang simple, praktis, mudah, dan mudah dipahami. Dengggggg! Meteor raksasa baru saja jatuh ke atas bumi.

Baca juga: Pahami, 7 Etika Dasar Saat Ucapkan Rasa Dukacita via Media Sosial

Fenomena yang sama terjadi di salah satu komentar dalam akun Instagram saya, yang menanyakan tutorial video cara membuat santan. Cara memanaskan makanan pendamping asi. Cara membuat bubur cincang. Cara menakar porsi bahan makanan.

Padahal setiap gambar (posting-an) di Instagram, sudah disertai kata-kata sederhana dalam kalimat pendek. Masih tidak bisa dipahami.

Jujur saya agak khawatir dengan kemampuan abstraksi generasi masa kini. Apakah itu sebabnya, mereka menjadi penikmat video, YouTube ketimbang pembaca buku? Akankah kita menuju masa di mana buku (termasuk e-book) semakin langka?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lebih ngeri lagi, atas nama kepraktisan dan simplifikasi, setiap masalah yang ada selalu ditanyakan: dok, lalu solusinya apa? Hal yang sama ditanyakan saat diagnosa penyakit muncul hingga konfirmasi anak sudah stunting.

Padahal sebelum penyakit mendera, kita diberi puluhan tahun untuk hidup baik dan ‘makan bener’ – bahkan diberi sinyal jika tubuh sering disiksa demi kenikmatan lidah: mulai dari gampang ngantuk, susah fokus, hingga kegemukan yang membuat pinggang sesak.

Pun sebelum anak disebut stunting, bulan demi bulan kenaikan berat badan tidak optimal, sering sakit dan malas makan.

Tapi bukannya dievaluasi penyebabnya, malah sang ibu hidup dalam penyangkalan (masih saja disebut anak sakit itu biasa) dan berburu resep masakan, yang katanya bisa mengejar berat badan anak. Tentunya dari medsos. Karena itu satu-satunya lingkaran informasi yang masih bisa ‘nyangkut’ di pemahaman mereka.

Tidak banyak para petinggi pembuat kebijakan yang tahu bagaimana ‘sepak terjang’ para ibu muda di pertengahan usia 20-an memberi makan anaknya yang lebih banyak mingkem dan rewel ketimbang mangap di setiap suap seperti teori.

Saat ada satu konten tiktok yang viral dan bombastis muncul sebagai ‘resep idaman’ pendongkrak berat badan anak, maka konten itu akan berputar di semua komunitas ibu muda dengan prinsip “ATM”: amati, tiru, modifikasi.

Artinya, mereka akan meniru apa yang ditonton dan memodifikasi dengan pemahaman masing-masing.

Baca juga: Kenapa Orang Senang Bikin Akun Anonim di Media Sosial?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.