Kompas.com - 24/09/2021, 17:31 WIB
Ilustrasi. shutterstockIlustrasi.

"Misalnya sering berganti pasangan, suka ghosting atau perilaku tidak setia lainnya," ujar Jovita lagi.

Kebiasaan tidak dipedulikan dan tidak mempedulikan orang lain akhirnya membuat orang tersebut haus akan upaya berpetualang mencari perhatian.

Akhirnya, mereka berusaha menjadikan orang lain sebagai korban sasaran luka emosionalnya sebagai bentuk pelampiasan.

Penelitian Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyebutkan deprivasi emosi terjadi karena anak kurang memeroleh kesempatan untuk mendapatkan pengalaman emosional yang menyenangkan.

Baca juga: 4 Alasan Seseorang Melakukan Ghosting, Apa Saja?

Khususnya momen yang melibatkan kasih sayang, kegembiraan, kesenangan, dan rasa ingin tahu.

Biasanya ini dialami oleh anak yang ditelantarkan atau ditolak oleh orangtuanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, anak yang besar dan tinggal cukup lama di rumah sakit, panti sosial atau panti asuhan juga cenderung mengalaminya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.