Kompas.com - 08/10/2021, 08:00 WIB

KOMPAS.com - Beberapa tahun belakangan, gerakan body positivity dan body neutrality nampaknya sedang marak dibicarakan.

Meski sama-sama berfokus mengajak orang-orang untuk lebih menerima dan menghargai tubuh, namun keduanya juga memiliki sejumlah perbedaan.

Nah, untuk mengetahuinya lebih lanjut, seorang dokter dan penulis kesehatan di Verywell Mind, Kristen Fuller, MD, menguraikan perbedaannya.

Dia juga membagikan cara mengadopsi kedua gerakan ini untuk membuat hidup lebih baik.

Gerakan body positivity

Gerakan body positivity mulai muncul di semua saluran media sekitar tahun 2012.

Baca juga: 5 Perempuan Selebritas yang Gencar Serukan Body Positivity

Tujuannya adalah untuk mengubah standar kecantikan feminin yang tidak realistis menjadi pendekatan yang lebih menyeluruh dan realistis.

Tubuh datang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Selulit dan kerutan adalah hal yang normal.

"Maka, rencana olahraga dan diet bisa sangat tidak sehat. Sebaliknya, kita harus fokus mengonsumsi makanan utuh yang bergizi dan mencintai tubuh kita apa adanya," kata Fuller.

"Sebab, gerakan ini menekankan, semua tubuh itu indah," sambung dia.

Gerakan body positivity juga telah tumbuh semakin populer, yang pada akhirnya mengembangkan beragam kritik dan stigma.

Kritik terhadap body positivity

Saat ini, hampir tidak mungkin untuk masuk ke media sosial tanpa dibanjiri iklan diet dan olahraga dengan tagar #bodylove, #bodypositivity, #allbodiesarecreatedequal, #loveyourbody, dan #allbodiesarebeautiful.

Tiap individu bangga menunjukkan ketidaksempurnaan tubuh mereka dan mempromosikan body positivity.

Namun, tidak dapat dipungkiri, ada banyak juga pelecehan, penolakan, dan kritik terhadap gerakan ini.

• Citra tubuh positif dan budaya obesitas

Banyak orang percaya, gerakan body positivity telah menciptakan budaya tidak sehat, yang memungkinkan orang mengabaikan komplikasi medis yang sering menyertai obesitas.

Obesitas sendiri terkait dengan beberapa masalah kesehatan seperti diabetes dan penyakit jantung.

Baca juga: 3 Alasan Pentingnya Memiliki Body Positivity agar Hidup Lebih Bahagia

Tetapi, banyak pendukung gerakan ini yang mengkritik penelitian mengenai kesehatan.

Menurut Fuller, para pendukung body positivity menerima semua tipe tubuh terlepas dari risiko kesehatan.

Mereka pun tetap mempromosikan pilihan hidup yang sehat sambil tetap menentang diet berbahaya dan budaya untuk menjadi kurus.

Banyak ahli kesehatan akhirnya berpendapat, ada berat badan yang tidak sehat dan berat badan yang sehat, yang sangat berbeda dari kurus atau gemuk.

Individu bisa kurus dan tidak sehat atau kelebihan berat badan dan tidak sehat.

"Menjadi kurus tidak secara otomatis meningkatkan kesehatan yang baik secara keseluruhan dan mungkin komplikasi medis lainnya seperti osteoporosis dan ketidakseimbangan hormon," kata dia.

"Akibatnya, banyak dokter menganjurkan orang-orang yang kurus untuk mengonsumsi makanan yang seimbang dan berolahraga secara teratur," lanjut dia.

Ini harus menjadi pilihan gaya hidup yang menyenangkan dan tidak dipaksakan kepada kita.

Namun demikian, terlibat dalam rejimen olahraga yang kita nikmati itu sangatlah penting.

Olahraga yang dilakukan oleh setiap orang juga bervariasi. Bisa berjalan-jalan, berlari, mengikuti gym, yoga, bersepeda, dan lainnya.

Baca juga: Marshanda Ingatkan Pentingnya Body Positivity dan Cintai Diri Sendiri

• Terlalu fokus pada penampilan

Di sisi lain, gerakan body positivity dapat membuat orang terobsesi dengan penampilan mereka, sehingga mereka melupakan semua aspek penting lain dari kehidupan.

Alhasil, banyak orang mungkin terlibat dalam budaya diet dan olahraga yang berbahaya karena mereka merasa tertekan untuk mencintai tubuh mereka.

Fuller mengungkapkan, sebagai manusia, kita memiliki penampilan fisik yang tentunya berbeda-beda dan hal itu sama sekali tidak menentukan siapa diri kita.

"Mungkin sulit untuk mencintai tubuh kita setiap hari, terutama ketika kita merasa gemuk atau pakaian sudah tidak lagi," tuturnya.

Terkadang, kita juga merasa lesu, lelah, dan kita merasa tidak nyaman dengan bentuk maupun penampilan tubuh kita.

"Hal ini dapat membuat kita merasa bersalah karena kita tidak menganut body positivity dan suara kecil di kepala kita terus mengatakan bahwa kita perlu lebih menerimanya," ujar dia.

Di samping itu, body positivity juga berarti menghargai dan mencintai tubuh yang kita miliki tanpa mengkritik diri sendiri atas perubahan yang terjadi secara alami karena penuaan, kehamilan, atau pilihan gaya hidup.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.