Kompas.com - 29/10/2021, 20:02 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Bukan hal yang aneh lagi jika beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak orang bertanya, ”Dok, ada enggak cara alami tanpa obat…” – sebutlah mulai dari mengatasi anak batuk pilek, TBC, hingga orang dewasa dengan hipertensi dan diabetes.

Kian banyak pula tudingan obat-obatan dokter sebagai ‘obat kimia’ yang katanya justru membuat penyakit makin parah, bahkan menimbulkan ketergantungan.

Ada apa di balik ini semua? Bukankah ilmu kesehatan dan kedokteran semestinya membuktikan kesembuhan dan mempersingkat penderitaan?

Baca juga: Bagaimana Cara Menjaga Tubuh Kita Supaya Tetap Sehat?

Ternyata pelayanan kesehatan tidak selamanya bisa diterima dengan baik, seperti harapan para dokter.

Apalagi, di zaman sarat informasi bersliweran tanpa sekat pertimbangan bijak.

Tidak jarang orang yang datang ke tempat saya adalah orang-orang yang sudah lelah ‘mentok’ berobat dan berharap keajaiban, dengan sesederhana ‘mengubah pola makan dan gaya hidup’ – yang dulu berpuluh-puluh tahun terbengkalai.

Betapa sulitnya menjelaskan, bahwa bukan obat-obat dokter yang membuat mereka gagal ginjal, melainkan justru pembiaran gaya hidup selagi minum obat, yang menjadikan informasi kesehatan seperti film drama yang terlalu banyak diedit.

Dikira dengan rutin minum obat diabetes, maka makan bisa semaunya. Dikira dengan rajin minum obat hipertensi, kerja bisa dilembur dan tubuh digenjot hingga pagi.

Mungkin saat dokter menulis resep obat, masih perlu aksentuasi bernada instruksi untuk kesungguhan mengubah gaya hidup ketimbang omongan ringan,”Jangan lupa jaga pola makan ya…” – lah, pola makan macam apa?

Sementara edukasi permisif semakin membuat pasien terlena menjadi-jadi.

Padahal ibarat lampu pengatur lalu lintas, tubuhnya sudah berada di depan lampu merah. Bukan lagi lampu kuning.

Kekisruhan tidak cukup sampai di situ. Publik semakin dibuat bingung dengan simpang siurnya pendapat pribadi beberapa ‘dokter’, yang mempraktekkan hal-hal yang mereka tidak dapatkan di sekolah kedokteran.

Sebutlah mereka mendapatkan ‘pengayaan ilmu’ dari sumber-sumber di luar konsensus ilmu kesehatan yang berlaku umum.

Yang perlu dikritisi, sekalipun menyandang gelar profesi, mereka tetap manusia yang tak luput dari kekeliruan berpikir.

Bagaimana mungkin menggunakan izin praktek dokter, tapi rujukan penatalaksaan penyakit tidak lagi mengikuti cara berpikir metodologis ilmu kedokteran?

Menyebut praktiknya ‘lebih alami’ dan merebut hati masyarakat yang sudah terlanjur ditakut-takuti ‘efek samping obat kimia’.

Baca juga: Apa yang Dimaksud dengan Pola Hidup Sehat?

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.