Kompas.com - 02/11/2021, 13:14 WIB

KOMPAS.com – Kemoterapi dan obat-obatan antikanker didesain untuk melawan sel-sel kanker. Meski saat ini pengobatan kanker semakin efektif, tetapi ada kalanya terapi untuk menyelamatkan nyawa ini meningkatkan risiko penyakit jantung.

Masalah yang ditimbulkan pada jantung tersebut disebut dengan kardiotoksisitas. Kondisi ini dapat terjadi beberapa hari atau beberapa bulan setelah pengobatan kanker.

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Ario Soeryo Kuncoro, tidak semua pasien kanker akan mengalami kardiotoksisitas.

“Kelompok yang memiliki risiko tinggi terhadap kardiotoksisitas adalah pasien yang sudah memiliki penyakit jantung dan yang memiliki faktor risiko, usia lanjut, serta paparan terhadap agen kardiotoksik multiple,” kata Ario dalam webinar yang diadakan oleh Heartology Cardiovascular Center Jakarta.

Ia mengatakan, diperlukan panduan bagi pasien kanker yang sebelumnya telah memiliki penyakit jantung atau pun beresiko.

Baca juga: 10 Langkah Cegah Kanker Rekomendasi Pakar Kesehatan Harvard

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K) Dok pribadi Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dr. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K)
Selain itu, perlu juga dilakukan pengelolaan dengan pendekatan multidisiplin kardio-onkologi, sebagai upaya pencegahan dan pengobatan pasien kanker yang menghadapi masalah jantung yang disebabkan oleh terapi pengobatan kanker.

“Sebelum melakukan kemoterapi bisa dilakukan pemeriksaan ekokardiografi untuk mendeteksi kardiotoksik, baik sebelum, selama, atau sesudah terapi kanker,” kata dokter dari Heartology Cardiovaskular Center ini.

Pemeriksaan ekokardiografi menggunakan metode imaging dapat dinilai secara tepat dan akurat. Frekuensi pemeriksaan tergantung pada kondisi pasien serta tujuan terapi.

Apabila dalam kondisi stabil dan pasien menjalani kemoterapi teratur sesuai jadwal, maka pemeriksaan ekokardiografi dapat dilakukan setiap 1 tahun sekali.

Namun apabila kondisi pasien memburuk di bulan ke-15 setelah kemoterapi dan diduga berkaitan dengan kardiotoksisitas, maka pemeriksaan ekokardiografi harus dilakukan lebih sering sesuai kebutuhan.

“Untuk pemantauan secara klinis, rekomendasi pemeriksaan ekokardiografi bagi pasien kanker wajib dilakukan minimal 1 kali dalam setahun. Pasien juga disarankan menggunakan ekokardiografi 3D sebagai pemeriksaan yang optimal dan akurat untuk mendeteksi CTRCD,” katanya.

Baca juga: Pengobatan Kanker Otak, Operasi hingga Kemoterapi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.