Kompas.com - 05/11/2021, 15:04 WIB

KOMPAS.com - Hingga hari ini, masih marak dipasarkan alat tes swab antigen mandiri, termasuk di berbagai marketplace. Harganya bervariasi, termasuk alat swab yang dijual sangat murah hingga di sekitar Rp 20.000an.

Namun, dokter kembali mengingatkan risiko melakukan tes swab sendiri di rumah dan bukan dilakukan oleh tenaga ahli.

Risiko utama melakukan tes swab sendiri adalah hasil negatif palsu atau false negatif karena mengambil sampel dari titik yang salah di dalam rongga hidung.

Secara sekilas, kita mungkin melihat alat swab hanya tinggal dimasukkan ke rongga hidung. Namun, alat tersebut harus mengenai bagian anatomi hidung tertentu yang menjadi tempat perlekatan protein virus.

"Kadang tidak kena di situ, negatif. Padahak bergeser sedikit dari situ, positif. Ini kan seperti orang bersembunyi di lorong, kan di sudut-sudut. Kita mengambilnya seperti menyapu. Kalau tidak kena, berarti tidak tepat."

Demikian diungkapkan oleh Dokter Patologi Klinik dr I Gede Wardhana Tohjiwa SpPK di sela konferensi pers bersama Bumame Farmasi di Bali, Rabu (03/11/2021).

Baca juga: Alat Swab Antigen Covid-19 Ramai Dijual Murah di Marketplace, Amankah?

Bahkan, alat tes yang berkualitas sekalipun bisa memberikan hasil false negative jika tidak dilakukan oleh tenaga ahli dan secara tepat. Apalagi, tenaga ahli juga melakukan pemeriksaan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.

"Kadang alatnya bagus, tapi pemeriksa saat mencolokannya tidak kena, jadi negatif. Di situ banyak faktor kesalahannya, apalagi jika dilakukan mandiri, sudah jelas," sambungnya.

Senada dengan Gede, Dokter Patologi Klinik dr I Nyoman Gde Sudana SpPK mengatakan, tes swab antigen tidak seperti alat tes lain, misalnya tes kehamilan, yang cenderung mudah dilakukan sendiri. Seperti diketahui, untuk melakukan tes kehamilan di rumah dilakukan dengan cara mencelupkan alat tes ke dalam urine.

"(Tes swab) negatif palsunya tinggi. Berbeda kalau kita menguji kehamilan, sampel yang diperiksa mudah dikeluarkan. Ini kan ada tindakan yang hampir invasif, jadi harus tenaga terlatih," kata Nyoman.

Terlebih, jika tes swab dilakukan sendiri, tubuh akan cenderung mengeluarkan refleks menolak ketika alat dimasukkan ke dalam rongga hidung. Ini berpotensi membuat hasil tes menjadi semakin tidak akurat.

Ketika identifikasi tidak akurat, maka hasil tes tidak bisa digunakan.

"Akan ada refleks untuk menolak kalau kita melakukan sendiri. Berbeda jika dilakukan orang lain, dengan kesadaran, kemudian (tubuh dalam kondisi) rileks," ucap Nyoman.

Baca juga: Tes PCR atau Antigen, Mana Lebih Baik dari Sisi Medis?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.