Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

5 Dampak Buruk Saat Tubuh Kekurangan Asupan Serat

Kompas.com - 16/11/2021, 18:48 WIB
Ryan Sara Pratiwi,
Glori K. Wadrianto

Tim Redaksi

Sumber Livestrong

Untuk memastikan kita mendapatkan cukup serat, pedoman diet 2015-2020 menyarankan kita agar mengonsumsi 14 gram serat untuk setiap 1.000 kalori yang kita makan per hari.

Serat makanan bisa berasal dari karbohidrat yang tidak dapat dicerna pada tanaman seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

"Karena tidak dapat dicerna, itu membuat tinja lebih besar dan lebih lembut."

"Tinja yang lebih besar bergerak melalui saluran pencernaan dan keluar dari tubuh dengan lebih mudah," kata Lakatos.

2. Masalah kesehatan jantung

Kekurangan asupan serat juga bisa menyebabkan kolesterol tinggi atau hiperlipidemia.

Menurut American Heart Association (AHA), hiperlipidemia berarti darah kita memiliki terlalu banyak lemak seperti kolesterol LDL (jahat) dan trigliserida.

Ketika kita memiliki terlalu banyak kolesterol jahat dan trigliserida yang beredar di dalam darah, itu dapat meningkatkan timbunan lemak di arteri yang mempersempit jalur ini dan menempatkan kita pada risiko yang lebih tinggi untuk serangan jantung atau stroke.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans dapat berkontribusi pada kolesterol tinggi.

Makanan yang tinggi lemak ini dapat kita temukan dalam susu penuh lemak, potongan daging berlemak, makanan penutup (dessert), dan makanan yang digoreng.

Kita dapat menurunkan kolesterol tinggi dengan berfokus pada makanan tinggi serat seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian dan kacang-kacangan.

Kemudian mengganti lemak tidak sehat dengan yang sehat seperti alpukat, minyak zaitun extra-virgin, ikan berlemak, dan kacang-kacangan.

"Serat larut yang ditemukan dalam buah, gandum, chia, dan biji rami membantu mengurangi kolesterol jahat."

"Gel menangkap kolesterol yang mengambang bebas dalam darah dan membuangnya melalui limbah kita," ungkap Lakatos.

Baca juga: 16 Makanan Tinggi Serat yang Menyehatkan Tubuh

"Semua serat baik untuk kesehatan jantung, kolesterol, dan keteraturan tapi serat larut dapat menangkap lebih banyak," tambah Shapiro.

Ada pun sumber serat larut yang baik dapat kita temukan dalam makanan-makanan seperti apel, kacang merah, kubis brussel, dan pir.

Sebuah studi pada Mei 2012 di European Journal of Clinical Nutrition mencakup lebih dari 300.000 pria dan wanita dari delapan negara Eropa.

Diamati, mereka yang makan 17,5-22,4 gram, 22,5-27,4 gram, dan setidaknya 27,5 gram serat setiap hari, memiliki risiko kematian yang rendah akibat penyakit jantung.

3. Menurunkan sistem kekebalan tubuh

Usus adalah rumah bagi triliunan bakteri. Menurut Harvard Health Publishing, ketika kita memiliki ketidakseimbangan bakteri baik dan jahat di usus, maka itu dapat meningkatkan risiko penyakit dan infeksi.

Mengonsumsi lebih banyak makanan probiotik seperti greek yogurt, sauerkraut, miso, dan kefir dapat memberikan makan mikrobioma yang merupakan pusat kendali sistem kekebalan tubuh dengan lebih banyak bakteri baik.

Sama seperti hubungan simbiosis, serat prebiotik juga dapat membantu probiotik ini berkembang.

"Jika bakteri baik tidak memiliki prebiotik untuk dikonsumsi, bakteri akan mati dan mikrobioma tidak akan berfungsi dengan baik karena kekurangan makanan berserat tinggi," ungkap Shapiro.

Berdasarkan tinjauan di World Journal of Gastroenterology pada Januari 2019, probiotik dan prebiotik disebut mampu memengaruhi kekebalan tubuh dengan memodulasi respons inflamasi yang dapat mengurangi risiko kanker kolorektal.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com