Kompas.com - 26/11/2021, 09:31 WIB
Ilustrasi startegi cara jualan online sukses atau cara jualan online laris ShutterstockIlustrasi startegi cara jualan online sukses atau cara jualan online laris

KOMPAS.com - Para pelaku bisnis di Indonesia mengalami masa-masa yang sulit di era pandemi, tidak terkecuali pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bagi para UMKM, kunci utama untuk kembali bangkit dan terus mengembangkan bisnis di masa sekarang adalah inovasi dan adaptasi.

Dikatakan Arto Biantoro, brand activist dan penggiat brand lokal, saat ini digitalisasi menjadi pendorong atau sarana untuk membantu UMKM menyokong kelangsungan bisnis mereka.

"Setelah tahun 2020, banyak UMKM yang sadar bahwa digital adalah masa depan," jelas Arto dalam acara ShopeePay Talk: ShopeePay 12.12 Birthday Deals yang diadakan pada Kamis (25/11/2021).

"Ini (digitalisasi) menjadi model bisnis yang harus dilakukan. Banyak UMKM yang akhirnya jatuh karena tidak mau beradaptasi dan berinovasi," imbuhnya.

Baca juga: Cerita UMKM yang Tetap Bertumbuh di Masa Pandemi, Manfaatkan Digitalisasi

Lebih lanjut Arto menerangkan, para pelaku UMKM kini semakin berlomba-lomba memaksimalkan penggunaan layanan digital hampir di setiap aspek bisnis agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

"Hal ini termasuk memperluas kehadiran bisnis di medsos, menggunakan layanan pesan instan untuk mempermudah komunikasi, mengeksplorasi strategi marketing digital, hingga menyediakan layanan pembayaran digital," ujar Arto.

Dalam kesempatan yang sama, Maulana Hakim, CEO brand minuman kekinian Teguk, menjelaskan bagaimana usahanya mampu bertahan menghadapi situasi pandemi.

"Kita dituntut untuk melakukan pergerakan cepat. Pergerakan itu tidak hanya dari satu aspek, tetapi merambah semua iklim usaha kita. Mulai dari sisi operasional, human resources, finance, sampai marketing," tuturnya.

Baca juga: 6 Kesalahan Reseller Pemula yang Bikin Bisnis Kurang Untung

Tips agar bisnis tetap bertahan di era pandemi

Baik Maulana maupun Arto membeberkan tips mempertahankan bisnis dari pengalaman mereka. Berikut tips yang mereka sampaikan:

1. Mengenali perilaku konsumen (consumer behavior)

"Lihatlah bagaimana consumer behavior yang berubah di masa pandemi. Consumer behavior akan ke arah mana," terang Maulana.

Menurut penelitian kecil yang dilakukannya, Maulana menyebut bahwa penjualan online dan pembayaran nontunai adalah kebiasaan konsumen di era ini. 

"Kita harus tahu target market-nya siapa, consumer kita ada di mana. Ikutin apa yang mereka mau."

Sementara itu Arto menanggapi, perilaku konsumen rata-rata akan berubah setiap enam bulan.

"Ini mungkin yang membuat teman-teman UMKM kesulitan, karena behavior konsumen cepat berubah," katanya.

"Kuncinya, pahamilah masalah atau kebiasaan konsumen seperti apa yang ada di sekitar kita. Proses inilah yang sebaiknya dipahami UMKM."

Baca juga: Uniqlo Ajak Konsumen Mengenal Teknologi di Balik Produk Berkualitas

2. Tidak panik

Menurut Arto, jika dibandingkan tahun lalu, bisnis UMKM sudah lebih baik sebab banyak yang sukses beradaptasi.

"Jika berbicara tren, bisa saja dalam waktu 10 tahun kita akan mengalami isu seperti ini lagi," jelas Arto mengingatkan.

"Tapi bagi mereka yang sabar, mengerti, tidak terlalu panik dan melihat kondisi, kita bisa melihat perubahan."

"Saya percaya ketika wirausaha dikembangkan tidak hanya memberikan benefit kepada pemiliknya, tetapi juga membantu ekonomi bangsa."

3. Bergerak secara offline maupun online

Pelaku UMKM seharusnya tidak mempermasalahkan untuk melanjutkan secara offline atau online, sebab keduanya saling melengkapi. 

Baca juga: Pentingnya Kehadiran Toko Offline bagi Merek Sepatu Lokal

4. Kolaborasi

Salah satu risiko ketika seseorang mengembangkan usaha, kata Arto, adalah banyaknya brand lain yang juga ikut tumbuh.

Hal ini, menurutnya, membuat persaingan antar brand semakin ketat. Namun ia mengutamakan pentingnya berkolaborasi dengan brand lain daripada bersaing.

5. Memanfaatkan data

Berpegang pada data bisa membantu pelaku bisnis melihat kebiasaan konsumen secara riil yang mana akan memengaruhi proses pertumbuhan UMKM nantinya.

6. Mutu pelayanan

Bagi pelaku bisnis makanan dan minuman, menurut Arto, menghasilkan produk dengan rasa yang enak saja tidak cukup. 

"Sekarang, bicara 'enak' sudah tidak bisa lagi dilihat sebagai nilai jual, tetapi sudah mandatory, keharusan."

"Tantangannya bukan cuma kualitas, kita bicara semua lini, termasuk pelayanan. Kita seringkali terfokus hanya pada kualitas produk," tandasnya.

Baca juga: Digital Marketing Bantu UMKM Kembangkan Usaha Saat Pandemi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.