Kompas.com - 30/11/2021, 09:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Belum ada dua tahun kita mendengar istilah ‘new normal’ didengungkan. Tapi, perjalanan terseok-seok mendidik publik hidup dengan kesadaran perilaku kerap berujung frustrasi.

Protokol kesehatan sebatas menggunakan masker dan cuci tangan pakai sabun barangkali masih dijalankan hanya di komunitas tertentu. Jaga jarak jangan ditanya. Itu tidak pernah ada.

Mulai dari senggolan di angkutan umum hingga foto bersama. Di pelosok gang (masih ibu kota lho) hidup berjalan seperti dahulu. Tak ada yang baru.

Baca juga: Waspadai Stres Jangka Panjang dan Kesulitan Tidur Saat New Normal

Di luar ibu kota, lebih meriah lagi. Persis seakan kengerian beberapa bulan lalu dimana ambulans meraung-raung dan tabung oksigen langka – tidak pernah terjadi.

Banyak kematian akibat penularan Covid-19 seperti tumbal sia-sia. Mereka pergi terlalu cepat, karena takdir dan nasib atau hanya sekadar sial.

Kerinduan dan kecanduan akan keriaan keramaian lebih kuat, ketimbang rasa prihatin nasional dimana sikap saling menjaga dan melindungi semestinya jadi bukti edukasi.

Padahal, pandemi ini mengajarkan manusia banyak hal. Salah satunya kembali ke fitrah sekaligus berubah.

Mulai dari gaya hidup waspada, di rumah saja lebih dekat dengan keluarga, berhemat karena ekonomi sedang morat marit, hingga memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk masa depan yang lebih baik.

Tidak ada yang menyangkal bahwa pertemuan atau rapat-rapat virtual sungguh menghemat banyak. Tidak usah ada perjalanan memakan waktu, apalagi keharusan menyiapkan budget untuk makan dan transportasi.

Tapi rupanya geliat ‘new normal’ ini dikendalikan oleh orang-orang yang sama sekali tidak siap berubah atau tepatnya hilang daya abstraksi untuk membuat perbedaan di masa depan.

Akhirnya rapat-rapat kembali diadakan di hotel-hotel, menggelar perjalanan dinas demi memanfaatkan ‘anggaran yang sudah disusun’.

Sebab jika anggaran itu tidak digunakan, maka tahun anggaran berikutnya berisiko kucuran jatah uang program dibabat habis – entah kenapa, ini logika yang sama sekali tidak pernah saya pahami.

Bukankah negara akan berhemat, apabila di sana-sini semakin banyak pimpinan program yang berkehendak baik memangkas anggaran?

Menguntungkan satu kepentingan dengan menempatkan risiko bagi pihak lain bukanlah cara yang arif.

Sebab yang kita hadapi adalah manusia. Manusia Indonesia yang terkenal ‘sulit diatur’, karena merasa peraturannya sendiri yang lebih penting.

Baca juga: Meninggalkan Kebiasaan Lama, Kunci Bertahan di Tengah New Normal

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.