Kompas.com - 05/12/2021, 12:55 WIB

KOMPAS.com - Mom shaming atau perundungan pada seorang ibu menjadi salah satu momok menakutkan bagi semua perempuan yang menjadi ibu.

Kritik, cacian bahkan perundungan atas berbagai pola parenting yang diterapkannya membuat banyak ibu tertekan. Bullying tersebut bahkan bisa mengganggu kesehatan mental karena para ibu kewalahan menghadapi tekanan yang dialaminya.

Pola makan, berat badan, pilihan susu formula atau ASI sampai pemberian gawai pada anak menjadi tema yang kerap dijadikan bahan kritik.

Baca juga: Bayi Gemuk Dianggap Lebih Sehat dan Lucu, Mitos atau Fakta?

“Mom shaming biasanya berbentuk nasihat dari orang yang (merasa) lebih berpengalaman. Namun cara penyampaian yang tidak tepat, menimbulkan kesan negatif dan membuat korban merasa buruk atau bersalah atas pilihan yang telat dibuatnya,” kata psikolog Dessy Ilsanty M.Psi, dikutip dari Kompas.com, (18/10/2019).

Mom shaming dialami bukan hanya dari keluarga atau tetangga namun juga teman bahkan netizen.

Berbagai jenis mom shaming, perundungan yang dialami para ibu

Menjadi ibu rentan menjadi sasaran kritik untuk semua perilaku yang kita lakukan. Mom shaming bisa membuar kita merasa malu, bersalah, rendah diri dan berbagai perasaan negatif lainnya.

Mom shaming menambah kelelahan emosional seorang ibu yang sedang mengurus buah hatinya, selain kelahan fisik yang dirasakan. Tak jarang ini bisa menjadi masalah kesehatan berkepanjangan jika tidak ditangani dengan tepat.

Baca juga: Bayi Gemuk Dianggap Lebih Sehat dan Lucu, Mitos atau Fakta?

Mom shaming dari orang lain

Mom shaming bisa datang dari orang lain yang kita temui ketika sedang keluar rumah bersama anak. Kehadiran bayi memang kerap memicu perhatian di tempat umum termasuk nasihat yang tidak kita butuhkan.

Mom shaming mungkin datang secara acak dari orang yang kita jumpai di supermarket karena anak tidak mengenakan jaket atau kaos kaki panjang. Penampilan fisik anak dan pola asuh orangtua adalah dua tema yang sangat rentan menuai mom shaming dari orang asing.

Kita dianjurkan untuk tidak menggubris kritik tersebut dan mengabaikannya begitu saja. Namun kadangkala, ada nasihat baik yang bisa dipertimbangkan dan menambah ilmu parenting kita.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.