Kompas.com - 14/12/2021, 08:39 WIB

 

Rokok elektrik, cara untuk berhenti merokok

Rokok elektrik diklaim bisa menjadi cara untuk menghentikan kebiasaan merokok tembakau.

Bahkan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS sedang mengevaluasi dan menyetujui sejumlah merek rokok elektrik yang dapat digunakan untuk berhenti merokok.

Baca juga: Pengguna Vape dan Perokok Lebih Rentan Tertular Covid-19

Badan ini mengharuskan perusahaan rokok elektrik untuk menunjukkan data tentang bagaimana produk mereka mampu membuat seseorang berhenti menghisap rokok tembakau.

Meski begitu, anjuran ini bisa menjadi pedang bermata dua.

Sebab, di satu sisi rokok elektrik bisa menjadi alat untuk menghentikan kebiasaan merokok tembakau dan ganja, tapi di sisi lain ada risiko disfungsi yang mengintai.

Ada pun, menurut rilis pada bulan September yang dipublikasikan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS dan FDA ditemukan lebih dari 2 juta anak-anak SMP dan SMA menggunakan rokok elektrik.

Survei bahkan menemukan, seperempat dari kaum muda -berkisar antara 500.000 orang- menghisap rokok elektrik setiap hari.

Dari data ini, lebih dari tiga perempat remaja lebih menyukai rokok elektrik dengan rasa buah, permen, mint, dan mentol.

El Shahawy mengungkapkan, walau rokok elektrik sudah dilabeli bebas nikotin tetap saja berisiko.

"Studi dasar telah melihat rokok elektrik bebas nikotin, dan mereka akan menemukan jejak nikotin di dalamnya," kata El Shahawy.

Baca juga: Asap Vape Mempercepat Kulit Keriput

"Bukan hanya jumlah nikotin yang diiklankan dalam e-liquid. Perangkat, koil pemanas, bagaimana panas dihasilkan semua itu dapat mengubah kadar nikotin yang sebenarnya dikirimkan ke orang yang menggunakan vape," tambah dia.

Saat ini, kata El Shahawy, peneliti belum mengetahui apakah ada perubahan permanen pada kemampuan pria saat berhubungan seksual.

"Apakah disfungsi ereksi sesuatu yang akan hilang begitu saja jika seseorang berhenti menghisap rokok elektrik, atau ini adalah sesuatu yang dapat memiliki efek residual di masa depan?"

Baca juga: Pengguna Vape dan Perokok Lebih Rentan Tertular Covid-19

"Kami membutuhkan studi yang lebih baik untuk dapat mengevaluasi dampak jangka pendek dan jangka panjangnya," kata dia.

Berdasarkan temuan ini, El Shahawy menyarankan pria yang masih menggunakan rokok elektrik untuk kesenangan agar berhenti.

“Kalau tidak merokok, jangan mulai. Tidak ada gunanya menghisap rokok elektrik karena tidak aman dengan sendirinya," tandas El Shahawy.

"Tapi jika kita sudah merokok dan ingin berhenti, maka bisa memilih menggunakan vape. Pertahankan. vaping ke tingkat minimal, cukup untuk mengatasi keinginan merokok, dan kemudian berhenti," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.