Kompas.com - 23/12/2021, 17:30 WIB

Biasanya, hanya salah satu pihak yang mengalami tantangan baik dalam hal pekerjaan maupun urusan personal.

Pihak lainnya bisa memberikan dukungan dan mempertahankan objektivitas untuk membantu pasangannya.

Namun saar menjalani program bayi tabung, keduanya mengalami titik terendah secara bersamaan.

Seringkali, coping mechanism yang dipilih berbenturan dan memicu ketegangan dalam hubungan.

Baca juga: Mengapa Tren Program Bayi Tabung di Indonesia Meningkat?

Ada juga perasan benci dan bersalah jika masalah kesuburan ini lebih banyak dipicu salah satu pihak.

Bronwyn Leigh menyebutkan, lasan paling umum orang menghentikan program bayi tabung adalah karena itu lebih sulit daripada yang diperkirakan.

"Bahkan ketika mereka memiliki prognosis yang baik, di mana mereka telah diberitahu bahwa perawatan IVF akan berhasil untuk Anda dalam waktu tertentu, terlalu tertekan adalah alasan utama untuk berhenti."

Berlanjut ketika masa kehamilan

Masalah kesehatan mental ini tak hanya muncul ketika proses bayi tabung atau ketika gagal hamil.

Ketika metodenya sukses dan janin sudah dikandung, banyak juga yang masih merasakan gangguan emosional.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.