Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Tentukan Pilihanmu
0 hari menuju
Pemilu 2024
Kompas.com - 30/12/2021, 13:55 WIB

KOMPAS.com - Menonton pertandingan sepak bola memang mengasyikkan sekaligus menegangan, apalagi jika membela tim favorit.

Pertandingan olahraga ini selalu diramaikan sorak-sorai kebahagiaan, luapan kekecewaan dan teriakan semangat dari para penontonnya.

Adrenalin kita ikut terpacu dan mengalami sensasi emosional yang sangat intens.

Terkadang kita ikut merasa senang, marah, putus asa, dan gugup sama seperti para pemain di lapangan hijau.

Beberapa orang juga berkeringat dingin ketika momen penting, misalnya saat pemain melakukan tendangan pinati.

Hal tersebut mungkin terjadi karena pertandingan sepak bola, dan olahraga lainnya, mempengaruhi otak dan tubuh kita.

Maka dari itu, menyaksikan pertandingan sepak bola bisa membangkitkan sensasi yang begitu intens dan sarat emosi.

Merasa menjadi bagian dari tim yang bertanding

Para penonton sepak bola bereaksi dan berpikir seakan mereka merupakan bagian dari tim yang bertanding di lapangan.

David Ezell, konselor profesional berlisensi di New York, AS mengatakan, manusia dewasa memiliki neuron khusus di otak yang disebut neuron cermin.

Baca juga: MU Kalah Melulu, Suami Jadi Bad Mood, Normalkah?

Bagian ini memungkinkan manusia memahami sudut pandang di luar dirinya sendiri.

Neuron ini memungkinkan kita untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan membayangkan apa yang mereka alami pada saat tertentu.

“Perasaan ini diperbesar ketika kita menonton tim sepak bola atau pemain yang kita sukai karena kita ‘tahu’ mereka,” kata Ezell, dikutip dari NBC News.

Saat menyaksikan aksi pemain di lapangan, kita mengalami sebagian dari perasaan yang mereka alami karena neuron cermin kita sedang bekerja.

Levelnya bisa sampai ke tingkat tertentu sehingga seolah-olah kita benar-benar berpartisipasi dalam pertandingan tersebut.

Senyawa kimia memengaruhi mood kita saat nonton pertandingan sepak bola

Ketika menyaksikan timnas atau klub favorit berlaga, kita merasakan emosi yang sangat intens.

Kita ikut sedih, bahkan menangis ketika mereka kalah dan tak kalah bersuka ria saat tim jagoan menang.

Fenomena itu ada hubungannya dengan neurotransmiter, senyawa kimia yang diproduksi otak untuk mengatur suasana hati kita, dan hormon.

Otak mulai melepaskan neurotransmitter dopamin ketika jagoan kita menang.

Baca juga: Pemain Sepak Bola di Euro 2020 Kenakan Bra, Apa Fungsinya?

Demikian paparan dari Dr. Richard Shuster, psikolog klinis di Texas, dopamin tersebut terlibat langsung dalam mengatur rasa penghargaan dari otak

Sebaliknya, ketika tim favorit tampil buruk dan kalah, otakmenghasilkan kortisol.

Hormon tersebut dibuat di kelenjar adrenal yang dilepaskan tubuh saat kita sedang stres.

"Lebih buruk lagi, otak kita mungkin menghasilkan lebih sedikit serotonin, yang dapat menyebabkan peningkatan kemarahan dan depresi," kata Shuster.

Tubuh bereaksi terhadap otak

Menyaksikan pertandingan sepak bola memicu sensasi yang intens pada penontonnya karena pengaruh kerja otakPexels/ Jeshootscom Menyaksikan pertandingan sepak bola memicu sensasi yang intens pada penontonnya karena pengaruh kerja otak

Kondisi fisik kita cenderung mengikuti suasana mental sehingga berkeringat dingin saat nonton sepak bola adalah hal wajar.

Demikian pula ketika kita bersorak gembira atau berteriak penuh kemarahaan saat menonton pertandingan olahraga.

“Ketika Anda mengalami kecemasan sebelum atau selama permainan, itu bukan imajinasi Anda,” kata Michael Grabowski, Ph.D, profesor komunikasi di Manhattan College.

Sejumlah menunjukkan, penggemar olahraga dapat memiliki kecemasan yang intens sebelum pertandingan besar, seperti para atletnya.

Keluhannya termasuk kecemasan kognitif dan kecemasan somatik, seperti gugup atau ekspresi kecemasan fisik lainnya.

Sensasi kegembiraan yang dirasakan saat tim sepak bola favorit menang juga membuat otak terlempar dalam kondisi yang disebut keadaan rangsang.

Baca juga: Babak Baru, Saat Fesyen Jadi Juara dalam Industri Sepak Bola

Keadaan rangsang ini berasal dari hormon adrenalin, dan kegembiraan itu sering muncul dalam perilaku tubuh manusia.

“Ketika kita stres atau gugup, otak kita kembali mengirimkan sinyal yang menyebabkan pelepasan adrenalin dari kelenjar adrenal,” Dr. Jason D. Hanks, direktur anestesi di NYC Surgical Associates, New York.

Jantung mulai berdetak lebih cepat, tekanan darah meningkat dan darah dialihkan ke bagian terpenting tubuh, yang menjadi bagian dari respons fight-or-flight.

Organ lain yang kurang penting, seperti sistem pencernaan, menutup suplai darah, yang memicu sensasi seperti yang kita alami saat gugup atau cemas.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber NBCNews
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke