Kompas.com - 04/01/2022, 16:43 WIB

KOMPAS.com - Love language sering dijadikan tolok ukur bagi banyak orang untuk melihat apakah seseorang mencintai pasangannya atau tidak.

Istilah love language mulai dikenal ketika Gary Chapman memperkenal konsep ini pada tahun 1992.

Dia menguraikan dalam bukunya yang berjudul "The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate."

Dalam buku tersebut dia mencatat ada lima love language yang bisa dilihat dari masing-masing orang.

Ini meliputi act of service, receiving gift, quality time, word of affirmation, dan physical touch.

Baca juga: 4 Cara untuk Menjaga Hubungan Tetap Langgeng

Banyak orang percaya apabila salah satu atau beberapa love language itu diungkapkan kepada pasangan, maka hubungan menjadi harmonis dan langgeng.

Lantas, benarkah demikian?

Dampak love language

Konsep love laguage bagi banyak orang memang terdengar masuk akal. Tapi, love language ternyata tidak memberi pengaruh yang signifikan dalam hubungan.

Menurut Psychology Today, love language seseorang tidak berkorelasi dengan hubungan yang lebih memuaskan.

“Ini konsep yang menyenangkan. Saya akan mengklasifikasikannya lebih dalam apa yang kami sebut kategori 'pop-psych' karena tidak ada banyak dukungan empiris untuk itu."

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Today
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.