Kompas.com - 07/01/2022, 13:58 WIB
. PEXELS/RODNAE Productions .

KOMPAS.com - Narsisme adalah sifat seseorang yang suka berperilaku arogan, merasa unggul dari orang lain, hingga sulit menerima kritik.

Dalam kehidupan sehari-hari, narsisis -sebutan orang yang berkepribadian narsistik- dikenal terlalu percaya dan kagum pada diri sendiri.

Dampak narsisme tidak hanya dialami oleh orang yang narsistik, tapi juga memiliki efek negatif yang luas dan terkadang berbahaya, termasuk dalam hubungan asmara.

Memahami narcissistic abuse

Walau kamu mengira narsisme hanyalah kebiasaan, sifat ini bisa didiagnosis sebagai gangguan kepribadian narsistik.

Menurut The American Journal of Psychiatry, sekitar 5,3 persen dari populasi umum memiliki gangguan kesehatan mental.

Namun, jumlah ini tidak hanya memengaruhi mereka yang memiliki gangguan kepribadian.

Orang-orang yang bekerja sebagai terapis mulai mengenali efek negatif dan berbahaya dari gangguan kepribadian narsistik.

Baca juga: Inilah yang Dilakukan Seorang yang Narsistik di Akhir Hubungan

Karena dampaknya dirasa merugikan, mereka bahkan menyebut narsisisme sebagai narcissistic abuse. Lalu apa maksudnya?

Narcissistic abuse

W. Keith Campbell, seorang profesor psikologi di University of Georgia dan penulis "The New Science of Narcissism" menjelaskan arti narcissistic abuse.

Narcissistic abuse adalah istilah yang digunakan di beberapa bidang terapi untuk konsekuensi negatif dari hubungan dengan individu narsistik,” kata dia.

Meskipun istilah ini tidak memiliki definisi resmi, para ahli yang bekerja dengan narsisis dan orang-orang lain sedang mencari tahu penyebabnya.

Mengapa terjadi?

Seorang psikolog berlisensi, Elinor Greenberg menyampaikan, seorang yang berkepribadian narsistik bisa sangat baik dalam banyak hal tetapi tidak pandai dalam hubungan.

“Mereka hidup di atas tali sementara kita semua berada di tanah yang kokoh."

"Adaptasi narsistik melibatkan usaha untuk mendapatkan harga diri dan sejauh mungkin dari rasa malu," ungkap dia.

Greenber yang juga menulis "Borderline, Narcissistic and Schizoid Adaptations: The Pursuit of Love, Admiration and Safety" menambahkan, narsisis menggunakan metode ekstrem untuk menghindari rasa malu.

Lebih parahnya, mereka mencari cara untuk merendahkan orang-orang di sekitarnya, bertindak muluk-muluk, atau sangat sensitif terhadap hal-hal yang mungkin diabaikan orang lain.

Alih-alih merasa malu atau tidak nyaman, narsisis berusaha keras untuk mentransfer perasaan itu kepada pasangannya dan melakukan emotional-physical abuse.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.