Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Love Bombing, Taktik Melenakan Pasangan Seperti di The Tinder Swindler

Kompas.com - 15/02/2022, 18:00 WIB
Sekar Langit Nariswari

Penulis

Mereka akan membujuk kita untuk kembali dengan permintaan maaf berlebihan atau simbol cinta mendalam guna merasa bersalah sehingga kembali dengannya.

Pelaku love bombing cenderung memiliki kepribadian bermasalah

Pelaku love bombing cenderung memiliki kepribadian dan masa lalu yang bermasalah.

Misalnya pernah menjalani hubungan yang tidak stabil, kasar atau sangat konfliktual.

Pasangan dengan perilaku ini juga memiliki kecenderungan gangguan kepribadian narsistik dan kecemasan terkait keterikatan.

Lori Nixon Bethea, PhD, pemilik Intentional Hearts Counseling Services, layanan konsultasi pasangan di AS menjelaskan, pelaku love bombing berusaha untuk segera mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari pasangan atau targetnya.

Maka mereka berusaha menampilkan citra diri yang ideal dengan berbagai gestur romantis.

Baca juga: Apakah Kita Benar-benar Jatuh Cinta? Kenali Tandanya

Ami Kaplan, LCSW, seorang psikoterapis di New York City menilai semua orang dapat menjadi pelaku love bombing, meskipun itu bisa menjadi gejala gangguan kepribadian narsistik.

"Love bombing sebagian besar merupakan perilaku yang tidak disadari," jelasnya.

Namun ketika pelaku sudah merasa mendapatkan pasangannya dan memiliki hubungan yang aman maka sisi narsisisnya keluar.

Mereka biasanya beralih dan menjadi pribadi yang sangat sulit, kasar, manipulatif atau merendahkan pasangannya.

Meski demikian, praktik love bombing bukan hanya terjadi pada hubungan romantis saja.

Istilah ini pertama kali diciptakan merujuk pada perilaku pemimpin sekte Unification Church of the United States saat merekrut anggota baru.

Pemimpin kultus narsistik lainnya menggunakan metode ini untuk penguatan positif yang berlebihan untuk menghasilkan perasaan persatuan dan kesetiaan yang kuat sehingga orang tersebut bergabung dengan kelompoknya.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com