Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Cara Mengajarkan Anak Pola Makan Sehat Tanpa "Food Shaming"

Kompas.com - 09/03/2022, 17:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Nika Halida Hashina dan Ristiani D. Putri

KOMPAS.com - Menjaga pola hidup sehat di masa pandemi merupakan sebuah keharusan. Salah satunya dapat dilakukan dengan menjaga pola makan sebagai investasi untuk mendapatkan tubuh yang sehat.

Saat ini, banyak sekali konten berisi anjuran cara menjaga pola makan sehat. Namun sering kali masyarakat salah kaprah sehingga mereka membatasi makanannya secara berlebihan.

Salah satu kisah yang membahas bahaya makan berlebihan dimuat dalam siniar Dongeng Pilihan Orangtua bertajuk “Dongeng Kelinci yang Rakus” di Spotify. Cerita ini mengisahkan seekor kelinci yang tidak pernah kenyang walau sudah memakan apa pun.

Agar tak keliru, pengajaran mengenai pola makan sehat pada anak dengan tidak memilih-milih makanan sebaiknya dilakukan. Hal ini bertujuan agar ia memahami manfaat dari tiap jenis makanan.

Hal yang diajarkan dan dihindari

Terkadang, ambisi orangtua untuk membuat anaknya sehat dengan berat badan ideal sering kali mengesampingkan kebutuhan mereka untuk mengeksplor beragam jenis makanan.

Ajaran ini biasanya dilakukan dengan pemberian stigma negatif pada makanan tertentu, dengan tujuan agar anak tidak mau mencobanya.

Meningkatnya obesitas pada masa kanak-kanak, wajar orangtua menginginkan sang buah hati menerapkan gaya hidup sehat. Akan tetapi, mengomentari makanan dengan food shaming dapat berdampak besar pada pola pikir mereka.

Selain menilai suatu makanan dengan buruk. Obsesi orangtua terhadap berat badan ideal juga terkadang menyakiti anak. Desakan untuk tidak mengonsumsi makanan tertentu turut menanamkan pada anak bahwa penampilan adalah segalanya.

Baca juga: Melatih Anak Mengelola Emosi agar Tidak Mudah Tantrum

Hitt, seorang penulis lepas di Brooklyn menuliskan pengalamannya dalam pengasuhan anak, “Saya menekankan bahwa buah-buahan, sayuran, serta protein baik untuk tubuh mereka. Tetapi saya tidak suka memberitahu mereka seperti, 'Kamu harus makan itu' atau, 'Ini buruk untukmu.'"

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.