Kompas.com - 17/03/2022, 11:00 WIB

KOMPAS.com - Gangguan kesehatan mental mungkin bukan hal aneh di masa pandemi Covid-19 yang menyebabkan rasa kesepian dan ketidakpastian keuangan.

Kendati demikian, sebuah penelitian baru menunjukkan, Covid-19 sendiri dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental.

Sebuah penelitian baru yang diterbitkan di jurnal The BMJ menyebutkan, orang yang tertular dan selamat dari Covid-19 memiliki risiko tinggi mengalami berbagai gangguan kesehatan mental.

Bahkan, gangguan tersebut bisa berlangsung hingga satu tahun setelah fase akut penyakit. .

Masalah kesehatan mental tersebut antara lain adalah gangguan kecemasan dan depresi, gangguan penggunaan opioid, dan gangguan tidur.

Baca juga: Infeksi Covid-19 Memicu Rambut Rontok, Benarkah?

"Yang paling mengejutkan adalah risiko gangguan mental ini juga terjadi pada orang-orang yang menderita Covid-19 ringan dan tidak memerlukan rawat inap."

Demikian dikatakan peneliti utama dalam riset ini, Direktur Pusat Epidemiologi Klinis di Veterans Affairs St. Louis Health Care System, Ziyad Al-Aly.

Untuk penelitian ini, peneliti menggunakan data dari ratusan ribu pasien yang sempat dinyatakan positif Covid-19 melalui tes polymerase chain reaction (PCR) antara Maret 2020 dan Januari 2021.

Rata-rata, semua pasien tersebut tidak memiliki riwayat gangguan kesehatan mental selama minimal dua tahun sebelum dinyatakan positif Covid-19.

Para peneliti kemudian membandingkan perkembangan kesehatan mental para pasien tersebut dengan dua kelompok orang yang belum pernah tertular Covid-19.

Kelompok pertama merupakan mereka yang tidak terinfeksi, tetapi mengalami tantangan pandemi yang sama seperti isolasi, pengangguran, dan kehilangan orang yang dicintai.

Sementara kelompok kedua merupakan pasien penderita gangguan kesehatan mental dari masa prapandemi antara Maret 2018 hingga Januari 2019.

Hasilnya, ditemukan, mantan pasien Covid-19 masing-masing 41 persen dan 39 persen lebih mungkin menderita gangguan tidur dan depresi jika dibandingkan dengan dua kelompok tersebut.

Selain itu, mereka juga 35 persen lebih mungkin mengalami gangguan kecemasan dan 38 persen lebih mungkin menderita stres serta gangguan penyesuaian, seperti post-traumatic stress disorder (PTSD).

Untungnya, hanya 4,4-5,6 persen dari peserta penelitian yang didiagnosis menderita depresi, kecemasan, stres, dan gangguan penyesuaian.

Baca juga: Senyawa dalam Ganja Rami Dapat Cegah Infeksi Covid-19, Benarkah?

Lalu, para peneliti juga menemukan, pasien Covid-19 memiliki peningkatan risiko untuk masalah gangguan kognitif seperti kabut otak dan kebingungan sebanyak 80 persen.

Selain itu, Covid-10 juga membuat 55 persen dan 65 persen lebih mungkin untuk masing-masing diberi resep antidepresan dan obat kecemasan.

"Pasien dengan depresi dan kecemasan juga tidak merespons pengobatan dengan baik. Covid telah menghasilkan jenis kecemasan dan depresi berbeda yang lebih sulit diobati.”

Demikian kata Kepala Departemen Forensik dan Psikiatri The Autonomous University of Barcelona, Antonio Bulbena.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Health
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.