Kompas.com - 07/05/2022, 11:29 WIB

KOMPAS.com - Sekolah bukan tempat belajar semata. Di sini anak juga harus membangun relasi dengan teman seusianya.

Namun, usia yang belia terkadang menyebabkan anak belum sepenuhnya mengerti pentingnya membangun pertemanan.

Walhasil, anak lebih suka menyendiri dan belum mau bergaul, baik ketika di dalam kelas, saat jam istirahat, maupun pulang sekolah.

"Jika anak tampaknya tidak berteman seperti anak lain pada usia yang sama, ia mungkin hanya membutuhkan waktu latihan keterampilan sosial sederhana."

Hal itu dikatakan oleh spesialis kesehatan perilaku anak, Kristen Eastman, PsyD, dilansir dari Psychology Today, Jumat (6/5/2022)

Orangtua perlu membantu anak, caranya...

Agar anak tidak telanjur kurang pergaulan alias kuper, orangtua perlu mengajarinya cara berteman dengan orang lain. Caranya?

1. Amati anak bersosialisasi

Orangtua dapat mengamati cara anaknya berinteraksi dengan orang lain, misalnya saat menghadiri acara di sekolah.

Anak bisa saja kesulitan memulai percakapan, cemas saat bertemu dengan banyak orang, atau takut berbicara di depan umum.

Orangtua yang bisa memahami kondisi si anak akan tahu di mana masalah berakar.

Dengan begitu, mereka dapat mengajari keterampilan apa yang belum dimiliki anak saat bersosialisasi.

“Percayalah pada insting, karena Andalah yang paling mengenal anak Anda,” kata Dr. Eastman.

Baca juga: Mengasah Keterampilan Bergaul Anak Selama Sekolah dari Rumah

2. Beri teladan

Orangtua harus ingat bahwa anak adalah pembelajar yang hebat, apalagi ketika usianya masih belia.

Jadi, apapun yang ia lihat dan dengar dari orangtuanya akan dipelajari.

Itu harus dimanfaatkan orangtua untuk memberi teladan tentang cara berteman dengan orang lain, baik itu tetangga atau saudara.

Ilustrasi orangtua dan anakAnnushka Ahuja Ilustrasi orangtua dan anak

3. Ajak anak ngobrol

Mencari dan memulai topik pembicaraan memang tidak mudah. Tapi, orangtua harus mengajari anaknya soal hal ini.

Misalnya dengan mengajak anak untuk duduk dan makan bersama ketika pulang sekolah.

Cobalah untuk mengobrol dan bahaslah topik yang menarik minat anak yang mungkin ia bicarakan dengan anak-anak lain.

4. Pancing anak

Anak terkadang enggan untuk memulai sesuatu. Jadi, orangtua harus memberi pancingan supaya ia mau proaktif.

Biasakan anak untuk menghadapi kelompok kecil terlebih dahulu. Bila ia sudah mantab, baru ajak anak bergabung dengan kelompok besar.

Itu penting untuk dilakukan orangtua supaya buah hatinya dapat membangun kepercayaan dirinya.

Baca juga: Melatih Anak Tunggal agar Mudah Bergaul dan Mau Berbagi

5. Beri apresiasi

Anak harus diberi pendekatan yang positif apalagi jika ia masih malu-malu untuk mencoba hal baru.

Buatlah latihan yang menyenangkan dan bermanfaat walau anak hanya menunjukkan kemajuan yang lambat.

Orangtua harus memastikan upaya anak menjadi kuat dan berilah pengakuan atas setiap keberhasilannya, walau kecil.

Katakan juga kepada buah hati bahwa kita sebagai orangtua bangga kepadanya karena sudah mau berusaha.

6. Atur jadwal bersosialisasi anak

Orangtua sebaiknya membantu anak dengan mengaturkan jadwal bermain hanya dengan satu anak bila buah hatinya masih kecil.

Tapi, kalau anak sudah mulai dewasa cobalah untuk mengundang banyak orang untuk makan bersama dan menonton film.

“Tujuannya adalah untuk membantu anak merasa nyaman bersosialisasi dan menjadikannya pengalaman yang positif,” ujar Eastman.

Ilustrasi orangtua sedang bersenda gurau dengan anaknya.tirachardz/ Freepik Ilustrasi orangtua sedang bersenda gurau dengan anaknya.

7. Jangan abaikan anak

Orangtua bisa saja menghindari atau mengabaikan situasi sosial yang sulit bagi anak.

Tapi kebiasaan itu ada baiknya tidak dilakukan karena anak tidak akan belajar memperbaiki caranya berelasi.

Eastman merekomendasikan agar anak yang pemalu didorong dari zona nyaman ke dalam situasi baru dengan pendekatan yang lembut.

Baca juga: Anak Punya Teman Toksik, Orangtua Harus Bagaimana?

8. Setop membandingkan anak

"Penyakit" kebanyakan orangtua adalah membandingkan buah hatinya dengan orang-orang seusianya.

Mungkin maksud orangtua untuk memberi motivasi, tapi ini akan dipandang berbeda oleh anak.

Bukan berarti orangtua yang punya banyak teman juga harus diikuti oleh anaknya.

Karena si buah hati mungkin memiliki kepribadian dan temperamen unik, misal introvert.

Anak yang demikian memang lebih suka bergaul dengan teman yang benar-benar baik daripada memiliki lebih banyak pertemanan biasa.

“Sulit ketika pemahaman orang tua tidak sejalan dengan pemahaman anak,” kata Eastman.

"Selama ia melakukan hal-hal yang ingin anak lakukan dan bahagia serta menyesuaikan diri dengan baik, itu bagus."

Baca juga: 4 Tips Membantu Balita agar Mudah Berteman

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.