Kompas.com - 24/05/2022, 21:00 WIB

KOMPAS.com – Hubungan pasangan yang jarang atau sama sekali tidak pernah memamerkan kemesraan di media sosial (medsos) seringkali dianggap tidak bahagia.

Padahal, stigma tersebut bukanlah jaminan karena menurut studi Northwestern University, AS pasangan yang tidak bahagia justru suka mengunggah hubungannya di medsos.

Temuan itu didapat setelah melakukan survei pada 108 pasangan di Facebook yang menyatakan telah menjalin hubungan pribadi.

Selama dua minggu, mereka diminta membuat jurnal harian dan diberi tugas menuliskan rasa aman dalam hubungan dan aktivitas di Facebook.

Hasilnya didapati bahwa orang-orang yang tidak bahagia cenderung suka menunjukkan hubungan mereka di medsos.

Baca juga: Pamer Kemesraan di Media Sosial, Tanda Kebahagiaan?

Setidaknya didapati delapan alasan mengapa pasangan yang tidak bahagia menjadikan medsos sebagai tempat pamer kemesraan.

Untuk lebih jelasnya, simak yang berikut ini.

1. Berusaha meyakinkan orang lain

Jangan 100 persen percaya dengan pasangan lain yang sering memposting foto atau video bucin ke medsos.

Unggahan tersebut mungkin saja dimanfaatkan untuk menunjukkan hubungan mereka yang bahagia.

Padahal, kenyataannya tidak demikian.

"Seringkali orang-orang yang paling banyak memposting yang mencari validasi untuk hubungan mereka dari orang lain di media sosial,” kata seksolog asal Australia, Nikki Goldstein.

Terlalu sering pamer kemesraan di medsos, di sisi lain, juga menipu diri sendiri karena pasangan menganggap hubungan mereka baik-baik saja.

Baca juga: 5 Kebiasaan Ini Tunjukkan Komunikasi dengan Pasangan Perlu Diperbaiki

2. Ada kecenderungan menjadi psikopat dan narsistik

Sebuah survei terhadap 800 pria 18-40 tahun menemukan bahwa tanda narsistik dan psikopat bisa diketahui dari jumlah selfie yang diposting.

Sementara, narsistik dan self-objectification dapat dilihat dari foto diri yang sudah diedit dan diunggah di medsos.

Studi lain menemukan bahwa memposting, menandai, dan mengomentari Facebook sering dikaitkan dengan narsisme pada pria.

Jadi, semakin sering orang-orang memposting di media sosial, besar kemungkinan mereka bisa menjadi narsistik atau psikopat.

Baca juga: Inilah yang Dilakukan Seorang yang Narsistik di Akhir Hubungan

3. Kebahagiaaan tidak diukur dengan aktivitas di media sosial

Ilustrasi media sosialKOMPAS.COM/Shutterstock Ilustrasi media sosial
Medsos bukanlah tolok ukur kebahagiaan karena orang-orang cenderung menutupi peristiwa buruk dengan menampilkan hal-hal baik.

Kasus yang sama juga berlaku apabila sejoli menjalin hubungan.

Sebab, romantis atau tidaknya pasangan ditentukan dari kenyamanan hati, bukan aktivitas medsos.

Justru pasangan yang bahagia sebenarnya sibuk menikmati kebersamaan satu sama lain ketimbang mengurusi postingan untuk medsos.

4. Pasangan yang banyak posting cenderung insecure

Setelah mensurvei lebih dari 100an pasangan, peneliti dari Northwestern University menemukan pasangan yang sering memposting di medsos sebenarnya merasa insecure.

5. Menunjukkan pertengkaran di medsos

Pertengkaran di medsos seringkali tidak ada ujungnya dan hanya mempermalukan diri sendiri dan pasangan.

Untungnya, hal itu tidak dilakukan oleh pasangan yang bahagia karena mereka tidak mau mengumbar perselisihan di medsos.

Baca juga: 6 Kesalahan yang Harus Dihindari saat Bertengkar dengan Pasangan

6. Terlalu bergantung pada hubungan

Tanda pasangan tidak bahagia lainnya adalah terlalu bergantung pada hubunga.

Peneliti dari Albright College menyebutnya sebagai Relationship Contingent Self-Esteem (RCSE).

RCSE digambarkan sebagai bentuk harga diri yang tidak sehat karena bergantung pada seberapa baik hubungan berjalan.

Orang-orang yang mengalaminya menggunakan medsos untuk membual tentang hubungan mereka, membuat orang lain cemburu, bahkan memata-matai pasangannya.

"Mereka yang RCSE merasa perlu untuk menunjukkan kepada orang lain, pasangan, dan mungkin diri sendiri bahwa hubungannya baik," kata asisten profesor psikologi di New York, Albright Gwendolyn Seidman, Ph.D.

7. Pasangan tidak punya apa-apa untuk dibuktikan

Pasangan yang benar-benar bahagia tidak perlu mencari pengakuan dari medsos untuk membuktikan betapa bahagianya mereka.

Pasangan tidak perlu pamer, membuat orang lain cemburu, atau memata-matai pasangannya.

Karena mereka sudah begitu aman dan puas dalam hubungan sehingga tidak perlu mempermasalahkannya.

Baca juga: Bahagia Tanpa Bergantung pada Pasangan, Begini Caranya...

8. Orang yang menjauhi Facebook lebih bahagia

Ilustrasi pasangan yang bahagia.jcomp/ Freepik Ilustrasi pasangan yang bahagia.
Denmark's Happiness Research Institute mendapati, pasangan yang menjauhi Facebook merasa lebih bahagia.

Temuan didapat usai organisasi itu melakukan eksperimen terhadap 1.095 orang dengan membaginya ke dalam dua kelompok.

Kelompok satu diminta berhenti memakai Facebook selama seminggu, sedangkan lainnya tidak.

"Setelah satu minggu tanpa Facebook, kelompok eksperimen melaporkan tingkat kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi," kata para peneliti.

Baca juga: 9 Kesalahan di Media Sosial yang Bisa Merusak Hubungan

Sebelum percobaan, para sukarelawan diminta untuk menilai kebahagiaan hidup mereka pada skala 1-10 dengan angka paling besar sebagai yang paling bahagia.

Mereka yang vakum dari Facebook kemudian mendapati kenaikan rasa bahagia dari 7,75/10 menjadi 8,12/10 setelah eksperimen.

Sedangkan, orang-orang yang tetap menggunakan Facebook tingkat kebahagiaan mereka turun dari 7,67/10 menjadi 7,56/10.

Para peneliti juga menemukan perbandingan sukarelawan yang merasa marah 20:12 persen, depresi 33:22 persen, dan khawatir 54:41 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Inc.
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.