Kompas.com - 30/05/2022, 09:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Idul fitri sudah hampir sebulan berlalu. Di kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya, kehidupan telah kembali ‘seperti dulu’ – bukan soal kemacetannya, tapi juga aktivitas warganya.

Bahkan, kantor-kantor memberlakukan ‘work from office’ 100 persen. Artinya, para wanita karier yang tadinya menghabiskan waktu di rumah selama dua tahun, juggling antara pekerjaan di atas komputer, rapat-rapat virtual, dan situasi rumah tangga – sekarang kembali menata tas kerja, menyemir sepatu berhak tinggi serta blus, blazer, yang tahu-tahu mendadak terasa sempit.

Belum lagi, celana panjang kerja atau rok yang pensiun selama pandemi – sebab layar virtual hanya menampilkan sebatas dada ke atas.

Baca juga: Literasi Gizi Masa Kini: Kita Makin Berdaya atau Diperdaya?

Yang lebih menggelisahkan, tentunya masalah tata kelola keseharian rumah tangga. Anak-anak yang justru sudah membentuk normalitas baru: nyaman belajar di rumah, makan teratur, bisa bertanya apa saja dan kapan saja kepada orangtuanya, sekarang harus bangun lebih pagi.

Ikut mengejar kemacetan dan sarapan, sementara perut masih kembung karena terbiasa makan pagi ‘agak siang’ selama dua tahun.

Kesulitan semakin terasa bagi anak-anak yang mengawali pendidikan formal bangku SD kelas 1 dengan sekolah virtual. Saat ini justru menjelang kenaikan kelas 2 ke 3 segala sesuatunya berubah.

Rupanya drama terbesar belum berakhir sampai di situ. Bagi sebagian besar wanita karier, pengaturan rumah tangga ditopang oleh asisten rumah tangga.

Para ART (asisten rumah tangga) yang setia mendapat kebahagiaan tak terkira, saat lebaran tahun ini akhirnya bisa mudik pulang kampung membawa penghasilan lumayan, berikut bonus dan THR.

Kini giliran sang majikan gelisah. Asisten masih ogah kembali bekerja karena masih kangen keluarga.

Ada yang belum selesai membangun tembok pengganti dinding bilik (dan katanya sekalian mau memasang keramik lantai), ada yang suaminya bersikukuh sang istri ‘istirahat saja dulu di kampung’, bahkan ada temannya sekampung yang nyinyir,”Ngapain ngurusi anak bos, wong anak sendiri ndak keurus!”

Sementara itu bapak dan ibu bos sudah sebulan terpaksa langganan catering, tanaman tak terurus, kusen-kusen jendela kian kusam, dan baru saja kemarin mesin cuci mogok tak mau berputar hingga terpaksa mencuci dengan tangan sambil menunggu antrean layanan rumah servis mesin cuci.

“Penderitaan” bertambah ketika anak terkecil sedang tumbuh gigi, demam, baru saja sembuh dari flu singapura, dan makan minta digendong kesana kemari.

Baca juga: Berkeluarga Tanpa Edukasi: Mimpi Ngeri Masalah Gizi

ART ditelepon, didera pesan teks hampir setiap hari, tak bergeming. Dijawab dengan emotikon senyum atau jawaban klasik menggantung atau bahkan pesan terkirim dengan symbol ‘centang satu’ dan tidak terbaca.

Barangkali dia kehabisan pulsa atau susah sinyal di kampung. Sementara, menyewa tenaga kerja baru hampir tidak mungkin.

Pertama, masalah kepercayaan yang tidak mudah: meninggalkan anak dengan kunci rumah. Sudah terlalu banyak kejadian-kejadian mengerikan di berita, anak jadi korban penganiayaan hanya karena ‘rewel, susah diurus’.

Kedua, latar belakang pribadi ‘orang baru’ yang sama sekali buram: perlu diingat, ART di Indonesia tidak dilengkapi kejelasan kualifikasi, apalagi surat rekomendasi dari pengguna jasa terdahulu. Padahal, bicara gaji dan cuti merupakan tuntutan yang minta ditepati.

Lumpuhnya manajemen rumah tangga hanya karena pembantu mudik tak balik-balik, kerap membuat ‘insyaf’ para majikan tentang berat dan ribetnya mengurus rumah, sekaligus melayani permintaan penghuninya.

Sebab nyonya rumah ternyata bukannya dibantu, tapi justru perlu diberi tahu: habisnya persediaan bahan lauk, bumbu, sabun cuci, hingga perkakas yang perlu diganti.

Nyonya rumah sama sekali buta soal masak memasak. Tapi karena rajin (serta selalu punya waktu lebih) menguntit akun medsos dimana-mana, resep-resep masakan kekinian yang bersliweran sigap ditangkap dan diteruskan ke ART untuk minta dibuatkan.

Padahal ART tidak paham gizi seimbang, tidak paham bedanya bumbu botolan dan hasil ulekan. Yang penting masakannya mendapat pujian.

Lebih gawatnya lagi, ada ART yang mengajari nyonya rumah cara-cara pemberian makan bayi dan anak, yang justru tidak sesuai pedoman yang semestinya.

Baca juga: 5 Tips Merekrut Pekerja Rumah Tangga Aman dan Nyaman, Tanpa Drama

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.