Kompas.com - 04/06/2022, 07:54 WIB

KOMPAS.com - Seiring bertambahnya usia, kita perlu lebih bijak dalam memilih makanan yang tepat.

Banyak penelitian yang mengungkap bagaimana pola diet orang lanjut usia dari berbagai belahan dunia yang membuat mereka memiliki umur panjang.

Salah satunya, proyek yang dilakukan oleh pendiri situs Blue Zone, Dan Buettner.

Diberi nama Blue Zones Project, studi ini mengidentifikasi orang-orang berumur panjang atau centenarian di lima wilayah zona biru.

Kelima wilayah itu mencakup Okinawa (Jepang), Sardinia (Italia), Nicoya (Kosta Rika), Ikaria (Yunani), dan Loma Linda (AS).

Baca juga: Tengok, Kebiasaan Minum Orang-orang Berumur Panjang di Zona Biru

Kemudian, Buettner bersama timnya memelajari komunitas centenarian di zona biru dan mencatat beragam nasihat hidup yang bisa kita contoh.

Nasihat itu termasuk pengetahuan terkait pola makan yang baik untuk menjaga kesehatan secara optimal.

Praktik makan utama yang dilakukan komunitas zona biru terbilang sederhana yakni sebagian besar menu makanan mereka berbasis nabati.

Makanan nabati menjadi menu utama komunitas zona biru

"Orang-orang di zona biru makan berbagai sayuran kebun ketika sedang panen," demikian bunyi keterangan proyek yang digarap Dan Buettner bersama timnya.

"Kemudian mereka mengasinkan atau mengeringkan kelebihan sayuran untuk dinikmati selama musim sepi."

Juga disebutkan dalam Blue Zones Project, makanan terbaik untuk memperpanjang umur adalah sayuran berdaun hijau seperti bayam, kangkung, bit, lobak, dan sawi.

Baca juga: Tips Memasak Ala Penduduk Zona Biru agar Panjang Umur

Menu makanan lain komunitas zona biru yakni buah dan sayuran musiman, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

Orang-orang di zona biru juga menikmati makan daging, walau porsinya sangat kecil.

Sebagai gantinya, mereka mendapatkan asupan protein dari kacang-kacangan, biji-bijian, dan sayuran yang mendukung tujuan penurunan berat badan.

Kaitan antara diet nabati dan penurunan berat badan

Ilustrasi kacang-kacanganMaksim Shutov Ilustrasi kacang-kacangan
Banyak temuan studi terdahulu menemukan, diet berbasis nabati terbukti membantu penurunan berat badan. Sementara, makan daging justru berdampak sebaliknya.

Satu studi pada 2010 menunjukkan, konsumsi daging dikaitkan dengan penambahan berat badan, meskipun metode penurunan berat badan lainnya sudah diterapkan.

Temuan komprehensif dari beberapa studi di tahun 2018 mengungkap, diet berbasis nabati terkait dengan kesehatan keseluruhan yang lebih baik.

Hal ini termasuk tingkat keberhasilan penurunan berat badan yang lebih tinggi.

Lalu pada 2020, studi lain menemukan ada kaitan antara diet berbasis nabati dengan penurunan berat badan.

Baca juga: Pro dan Kontra Diet Karnivora di Kalangan Ahli Nutrisi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Eat This
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.