Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 12/06/2022, 10:30 WIB
Anya Dellanita,
Sekar Langit Nariswari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru membuktikan operasi bariatrik atau operasi penurunan berat badan dapat menurunkan risiko kanker pada penderita obesitas hingga 50 persen.

Hasil penelitia tersebut dipresentasikan di American Society for Metabolic and Bariatric Surgery Annual Meeting.

Dilaporkan bahwa tim peneliti dari Gundersen Lutheran Health System di Wisconsin mengamati 3776 penderita obesitas dewasa dengan 1.620 orang di antaranya telah melakukan operasi penurunan berat badan.

Pengamatan tersebut berlangsung selama lebih dari 10 tahun guna memantau risiko kanker pada para pasien.

Hasilnya, ditemukan bahwa operasi penurunan berat badan berkaitan erat dengan menurunnya risiko kanker dan kematian akibat penyakit tersebut.

Untuk diketahui, orang dengan obesitas dua kali lebih mungkin menderita kanker dan tiga kali lebih mungkin untuk meninggal karenanya jika dibandingkan dengan mereka yang menjalankan operasi bariatrik.

Baca juga: Agar Terhindar dari Obesitas, Ketahui 5 Tips Menjaga Berat Badan

Operasi penurunan berat badan sendiri telah dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara, kanker ginjal, kanker tiroid, kanker ginekologi, kanker paru-paru, dan kanker otak.

Kendati demikian, efeknya yang signifikan itu membuat banyak peneliti terkejut dengan fakta baru ini.

"Manfaat pengurangan risiko kanker melalui operasi penurunan berat badan tidak dapat diabaikan dan harus menjadi pertimbangan bagi pasien obesitas dan yang memiliki risiko tinggi terkena kanker," ujar ahli bedah bariatrik di Gundersen Lutheran Health System, Dr Jared R. Miller, seperti dilansir dari Insider.

Baca juga: 5 Tanda Kita Berisiko Tinggi Terkena Kanker

Temuan serupa dari studi terpisah juga diterbitkan minggu ini di JAMA oleh para peneliti di Cleveland Clinic.

Hasilnya, ditemukan bahwa operasi penurunan berat badan dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih rendah secara signifikan.

Selain itu, pasien dalam penelitian tersebut dilaporkan kehilangan berat badan sekitar 24kg lebih banyak jika dibandingkan dengan penderita obesitas yang mencoba menurunkan berat badan melalui perubahan gaya hidup.

Hal ini menjadi pembeda karena biasanya perubahan gaya hidup termasuk diet tergolong jarang menghasilkan manfaat jangka panjang yang signifikan.

Menu sarapan yang sarat akan gula olahan seperti yang terdapat pada beragam varian pastry dan donat ternyata menjadi salah satu pemicu timbunan lemak di perut.SHUTTERSTOCK/KURHAN Menu sarapan yang sarat akan gula olahan seperti yang terdapat pada beragam varian pastry dan donat ternyata menjadi salah satu pemicu timbunan lemak di perut.
Meski demikian, operasi penurunan berat badan tidak serta merta bisa dilakukan semua orang.

Biasanya tindakan medis ini hanya direkomendasikan untuk pemilik indeks massa tubuh 35 atau lebih, atau sekitar 35 hingga 45kg lebih berat dibanding berat badan yang sehat.

Selain itu, operasi penurunan berat badan juga memiliki risiko kesehatan sendiri, terlepas manfaatnya.

Sebab, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 20 persen pasien mengalami beberapa komplikasi, mulai dari kekurangan nutrisi, hernia, kebocoran hingga infeksi, pembekuan darah, hingga kematian.

Baca juga: 5 Kebiasaan Makan Buruk yang Bisa Ganggu Penurunan Berat Badan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com