Kompas.com - 23/06/2022, 11:23 WIB

"Semua ini sulit dipahami juri karena tampaknya berlawanan dengan intuisi bahwa seseorang bisa terlihat datar atau bahkan bosan, atau bahwa seseorang akan kesulitan mengingat detail dari sesuatu yang mengerikan yang dia derita," tambah Kate, yang juga bekerja di Universitas Columbia.

Pentingnya memahami trauma dan berempati, termasuk pada Amber Heard

Ekspresi Amber Heard disebut salah satu juri persidangan kerap membuat tidak nyaman, yang juga jadi alasan kekalahannya di pengadilan.

Wanita berusia 36 tahun itu dianggap mengeluarkan air mata buaya untuk mendapatkan simpati.

Sementara itu, Johnny Depp terlihat lebih stabil secara emosional sehingga kesaksiannya dianggap lebih 'nyata'.

Baca juga: Berkaca dari Kasus Johnny Depp dan Amber Heard, Ini 5 Pelajaran Agar Tidak Terjebak Toxic Relationship

Jim Hopper, seorang psikolog klinis dan ahli trauma psikologis di Amerika Serikat mengatakan bahwa wajar untuk membuat penilaian tentang seseorang berdasarkan bagaimana mereka mengekspresikan emosinya.

"Kamu hanya manusia, jadi kamu tidak bisa menahannya," kata Hopper, yang juga pengajar di Harvard Medical School.

"Pertanyaannya adalah, apa basis pengetahuan yang Anda miliki? Jika mereka adalah seseorang yang mengalami trauma, apakah Anda mampu berempati dengan seseorang yang mungkin mengungkapkan trauma itu dalam berbagai cara yang berbeda?"

Ia mengatakan, persidangan berlangsung di dalam ruangan yang dipenuhi pendukung Johnny Depp.

Hal ini memberikan tekanan tersendiri dengan sejumlah orang yang terus-terusan mengarahakn kebencian kepadanya.

"Jadi bukan hanya seseorang yang benar-benar trauma, dan seperti apa bentuknya? Tapi, juga, bagaimana rasanya mengingat traumamu di depan umum dengan sekelompok orang yang bermusuhan menatapmu dan memberimu tatapan benci sepanjang waktu?"

Baca juga: Kisah Penggemar yang Antre Dini Hari dan Habiskan Ratusan Juta Rupiah demi Sidang Johnny Depp

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.