Kompas.com - 02/07/2022, 18:00 WIB

KOMPAS.com - Berawal dari kecintaannya kepada motor sport sejak di usia remaja, Freddy Hadiono berani membangun brand fesyen otomotif bernama Prostreet.

Pria 32 tahun ini mulai merintis usahanya pada 2013.

Saat itu, ia baru lulus dari Fakultas Hukum Universitas Pasundan (Unpas) Bandung.

Rasa galau kemudian hinggap karena sulitnya mencari kerja saat itu.

Hingga pada suatu hari dia membaca postingan Twitter Ridwan Kamil yang saat itu masih menjabat Wali Kota Bandung.

Ridwan Kamil menulis pekerjaan yang menyenangkan adalah hobi yang dibayar.

Terinspirasi dari unggahan tersebut, ia bertekad membuat usaha dari hobinya menunggangi motor sport.

Ia lantas membangun brand fashion otomotif bernama Prostreet pada 2013.

"Saya dari keluarga ada (berada). Ketika memutuskan untuk bisnis, orangtua memberikan bantuan modal Rp 1 miliar."

"Angka yang besar pada tahun itu," ujar Freddy kepada Kompas.com di storenya, Jalan Setiabudi, Bandung, Sabtu (2/7/2022).

Namun ternyata, modal besar tidak menjamin kesuksesan. Dalam satu tahun, usahanya bangkrut.

"Merasa ada uang dan tidak memiliki ilmu bisnis, modal Rp 1 miliar habis dalam setahun."

"Bahkan saya jual mobil dan motor, yang tersisa hanya motor matic," tutur lulusan SMAN 1 Bandung ini.

Mulai dari nol

Suasana offline store Prostreet di Jalan Setiabudi, Bandung. KOMPAS.com/RENI SUSANTI Suasana offline store Prostreet di Jalan Setiabudi, Bandung.
Kegagalan usahanya menjadi titik balik dan pelajaran berharga dalam hidupnya.

Ia mengaku tak ingin lagi mengecewakan orangtua.

Dengan sisa uang Rp 20 juta, ia membangun konveksi, selain meneruskan Prostreet secara perlahan.

Untuk Prostreet, dia memulainya dengan membuat 1-2 lusin kaus yang dipasarkan kepada teman-temannya.

Karena keterbatasan dana, ia melakukannya seorang diri.

Mulai dari desain, marketing, hingga mengantarkannya ke pihak ekspedisi.

Setiap hari, ia pulang ke rumah jam 2 dini hari dan jam 8 pagi sudah pergi berusaha lagi.

"Dulu istri (menegur) sampai bilang anak kamu lama-lama manggil om.''

''Empat tahun saya babak belur mulai terlihat maju pada 2017," ucap dia mengenang masa lalu.

Pemasaran online

Sejak awal, karena keterbatasan dana, pemasaran dilakukan online dengan memanfaatkan media sosial seperti Instagram.

Perlahan perusahaannya bangkit. Pesanan makin berlimpah.

Dari awalnya kaus, ia mulai bermain di hoodie, jaket, dan berbagai aksesoris motor lainnya.

Pegawai pun bertambah satu per satu.

Hanya satu yang masih dipegangnya sampai sekarang yakni desain.

Ketika pandemi melanda, bisnisnya justru semakin melejit. Sebab, dia sudah lebih dulu menjalani digital marketing alias pemasaran online.

Setiap produk yang diluncurkan habis dalam hitungan menit. Bukan hanya dari dalam negeri namun juga luar negeri.

Sayang, karena keterbatasan barang, ia tidak terlalu menggubris permintaan luar negeri. Sebab ia khawatir mengecewakan bila dilayani tidak maksimal.

Ia hanya mengirim barang ke luar negeri bila ada konsumen di sana yang memaksa menginginkan produknya.

Hingga kini, pembelinya datang dari Filipina, Thailand, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Austria, hingga Amerika Serikat.

"Saya terkendala di shipping. Produk luar gampang masuk ke kita, tapi dari kita susah keluar," ungkap pria kelahiran Bandung, 15 Juni 1990.

Baru tahun ini, pihaknya akan fokus menggarap pasar luar negeri.

Ditambah beberapa temannya ingin menyimpan Prostreet di beberapa store di luar negeri.

Desain

Berbeda dengan pakaian pada umumnya, desain yang dihadirkan Prostreet sangat detail dan rumit.

"Namun, kerumitan ini justru menjadi jiwa dalam desain Prostreet."

"Desain seperti ini kemudian disukai banyak konsumen dari pegiat sportbike," kata Founder sekaligus CEO Prostreet ini.

Berbagai desain yang diproduksi Prostreet pun terinsipirasi dari gaya tatto Yakuza, Jepang.

Freddy kemudian mengombinasikan desain tersebut dalam pakaian yang dibuat.

Saat ini Prostreet mulai merambah art style Amerika yang juga diminati para pecinta sportbike pria maupun wanita.

Menurut dia, konsumen Prostreet sekarang tidak hanya datang dari pecinta sportbike saja, tapi ada juga pengguna motor matic, klasik, hingga adventure.

Produk Prosteet sendiri sekarang terbagi menjadi beberapa kategori seperti regular, premium, dan limited produk.

Banyaknya minat dari dalam dan luar negeri, membuat Prostreet tahun ini mengembangkan konsep produk Fashion & Function, yakni menggabungkan aspek fungsi dan fashion.

Beberapa produk yang sudah dikeluarkan adalah celana jeans dan jaket berprotektor hingga wearpack.

Store

Freddy mengaku 90 persen penjualannya saat ini masih online.

Namun tahun ini ia membuka offline store.

Tujuannya ingin semakin dekat dengan pecinta motor.

Selama ini, kata dia, pecinta motor tidak memiliki tempat untuk nongkrong.

Ia berharap tempat ini bisa menjadi tempat berkumpulnya para bikers.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.