Kompas.com - 03/07/2022, 07:00 WIB

KOMPAS.com - Perkembangan otak anak merupakan salah satu topik yang cukup sering dibahas dan dipelajari dalam dunia parenting.

Hingga saat ini, banyak peneliti yang yang terus mempelajari bagaimana lingkungan, faktor biologis, dan genetik dapat membentuk perilaku seorang anak.

Bahkan baru-baru ini, ditemukan bahwa jika ingin anak memiliki perkembangan otak yang sehat, maka orangtuanya pun perlu memiliki perilaku yang konsisten.

Baca juga: 5 Model Konsekuensi Negatif demi Perilaku Anak yang Lebih Baik

Dikutip dari Medical Xpress dan The Conversation, temuan itu didapatkan setelah sekelompok peneliti mempelajari perkembangan otak anak guna mengupas bagaimana pengalaman di awal kehidupan berdampak pada perkembangan otak.

Hasilnya, ditemukan bahwa perilaku dan pola asuh yang tak dapat diprediksi dapat mengganggu perkembangan sirkuit otak emosional anak.

Artinya, anak memiliki risiko tinggi terkena penyakit mental atau penggunaan zat di kemudian hari jika pola asuh yang dianut orangtuanya tak dapat diprediksi.

Dikutip dari Moms, risiko tersebut dapat diakibatkan karena sistem sensorik otak anak yang tidak terlatih.

Masalah pengelihatan anak pun dijadikan contoh.

Misalnya, jika seorang anak memiliki mata malas yang parah, mereka dapat mengalami masalah penglihatan seumur hidup jika tidak mendapatkan perhatian yang dibutuhkan.

Ilustrasi anak mengikuti pembelajaran jarak jauh di masa pandemi.Dok. iStock/staticnak1983 Ilustrasi anak mengikuti pembelajaran jarak jauh di masa pandemi.

Hal ini mengingatkan kita bahwa anak perlu orangtua yang selalu konsisten baik dalam perkataan, pikiran, maupun tindakannya.

Orangtua sebenarnya merupakan informasi pertama anak sebelum ia mulai tumbuh.

Karena itu itu, anak membutuhkan  informasi yang diterimanya tetap konsisten dengan orangtuanya.

Baca juga: Anak Tertutup dan Sulit Bergaul, Apa yang Perlu Dilakukan Orangtua?

Peneliti pun mengatakan bagaimana seorang anak akan bereaksi pada kebutuhan emosionalnya.

Misalnya, jika seorang anak selalu diabaikan kebutuhan emosionalnya atau orangtua tidak merespons saat mereka terluka, mereka berisiko mengalami masalah emosional dalam hidupnya.

Intinya, anak membutuhkan orangtuanya selalu dapat diprediksi dan konsisten.

Artinya, saaat seorang anak jatuh dan menyakiti dirinya, mereka memerlukan orangtuanya untuk merespons mereka dengan cara yang sama secara terus menerus.

Hal yang sama juga berlaku untuk situasi di mana anak meminta mainan baru atau sesuatu ketika orangtuanya keluar.

Mereka mengandalkan orang tua untuk memberikan pesan yang sama setiap saat, mengkomunikasikan stabilitas, keamanan, dan keselamatannya.

Jadi sebelum memutuskan untuk memiliki anak, ingatlah hal tersebut ya.

Baca juga: Jangan Cuma Melarang Anak Main Gawai, Orangtua Harus Melek Teknologi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Moms


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.