Kompas.com - 07/07/2022, 06:03 WIB

KOMPAS.com - Ketidakmampuan untuk menyeimbangkan tubuh ternyata punya kaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi.

Hal itu diketahui usai studi yang dilakukan sekelompok peneliti asal Brasil dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine.

Studi mendapati bahwa orang dewasa berusia lanjut yang gagal menyeimbangkan tubuh punya risiko kematian sebesar 84 persen.

Persentase mereka lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang sepantaran lainnya yang keseimbangan tubuhnya terjaga.

Lantas, apa alasan peneliti?

Jalannya studi

Temuan tersebut didapat usai peneliti dari Clinimex Medicina do Exercicio menjaring 1.700 responden berusia 51-75 tahun.

Mereka mulanya menjalani pemeriksaan fisik dasar yang meliputi berat badan, ukuran pinggang, dan lemak tubuh.

Pada tahap ini peneliti hanya meloloskan responden yang dapat berjalan dengan baik sebagai bahan analisis.

Selanjutnya responden diminta untuk berdiri dengan satu kaki selama sepuluh detik tanpa pegangan apa pun di atas permukaan datar.

Tes keseimbangan yang mereka jalani dilakukan untuk melihat kemampuan responden menopang dirinya.

Responden diberi kesempatan oleh peneliti untuk melakukan tes keseimbangan sebanyak tiga kali.

Namun, mereka diwajibkan menyeimbangan tubuh tanpa alas kaki dengan tangan di samping dan pandangan mata lurus ke depan.

Selama melakukan tes keseimbangam, responden didampingi satu dokter atau asisten perawat yang berdiri dekat untuk menstabilkan jika jatuh.

Baca juga: Aktivitas Fisik 10 Menit Sehari Kurangi Risiko Kematian, Percaya?

Temuan peneliti

Nah, setelah tes rampung digelar, ada temuan menarik yang didapati oleh peneliti.

Mereka menyebut kemampuan responden untuk menyelesaikan tes keseimbangan menurun dengan cepat setelah usia 60 tahun.

Sekitar 95 persen responden berusia 51-55 tahun diketahui dapat menyeimbangkan tubuh dengan satu kaki selama sepuluh detik.

Responden berusia 61-65 tahun juga punya catatan baik dalam tes itu dengan persentase keberhasilan sebesar 82 persen.

Sementara kelompok usia 71-75 tahun yang dapat menyeimbangkan tubuh ketika tes hanya 46 persen.

Apabila hasil tes peneliti disimpulkan, satu dari lima responden gagal melewati tes keseimbangan.

Berangkat dari situ, studi kemudian mengaitkan jatuh dengan kemungkinan kematian yang lebih tinggi.

Peneliti sebenarnya sudah mencoba mengesampingkan faktor penghambat, seperti obesitas dan masalah kesehatan lainnya.

Sayangnya temuan yang didapat mereka tidaklah berbeda dengan hasil awal.

Kegagalan menyeimbangkan pada satu kaki selama sepuluh detik tetap dikaitkan dengan risiko 84 persen lebih tinggi dari semua faktor kematian.

Bahkan, orang dewasa berusia tua yang gagal melewati tes tersebut lebih mungkin meninggal dalam 10 tahun ke depan.

"Setiap tahun diperkirakan 684.000 orang meninggal karena jatuh secara global," catat peneliti.

Di samping itu, peneliti juga mempertimbangkan sejumlah faktor. Mulai dari usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, riwayat penyakit jantung, hipertensi, diabetes, dan kolesterol.

Mereka menyampaikan bahwa risiko kematian dalam 10 tahun sebesar 1,84 kali lipat lebih tinggi pada peserta yang gagal dalam tes keseimbangan.

Baca juga: Latihan Kekuatan 30-60 Menit Turunkan Risiko Kematian Dini

Hubungan dengan penyakit

Meski jatuh bukan satu-satunya faktor kematian, hal ini berisiko menyebabkan cacat fisik atau kognitif.

Akibatnya adalah usia harapan hidup mereka yang mengalaminya dapat berkurang secara drastis.

Peneliti mencatat bahwa tes keseimbangan yang digelar dapat diterima oleh responden.

"Dan yang penting, mudah untuk dijadikan latihan rutin karena butuh kurang dari 1-2 menit untuk dilakukan," ujar peneliti.

Peneliti juga mengatakan, responden yang gagal menyeimbangkan diri cenderung memiliki kondisi kesehatan yang buruk.

Mereka mungkin mengalami obesitas, penyakit kardiovaskular, atau kadar kolestereol dalam darah yang tidak sehat.

Sementara itu diabetes tipe 2 tiga kali lebih mungkin dialami oleh respoden yang tidak bisa menyeimbangkan tubuh.

"Orang yang jatuh berisiko sangat tinggi mengalami patah tulang besar dan komplikasi terkait lainnya."

Demikian penjelasan penulis utama studi, Claudio Gil Soares de Araújo, yang juga Direktur Penelitian Pendidikan Exercise Medicine Clinic-CLINIMEX.

"Ini mungkin berperan dalam risiko kematian yang lebih tinggi," tambahnya.

Baca juga: Latih Keseimbangan Tubuh untuk Perpanjang Usia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.