Kompas.com - 31/07/2022, 19:05 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Awal Agustus selalu diperingati sebagai Pekan Menyusui Sedunia. Begitu besar perhatian para pakar, akademisi, dan semua yang terlibat dalam pengasuhan anak terhadap proses menyusu yang merupakan langkah pertama seorang bayi baru lahir mendapat asupan nutrisi.

Sayangnya, proses alamiah yang mestinya menjadi tuntunan krusial seorang calon ibu tidak dianggap sebagai bagian kompetensi tenaga kesehatan.

Padahal, untuk mengedukasi hal yang fisiologis tentu jauh lebih mudah ketimbang mendidik pasien mengganti perban atau minum sekian jenis obat secara teratur.

Hingga hari ini, sebagian besar orang menganggap proses menyusui adalah insting, yang otomatis bisa berlangsung saat bayi lahir, menangis ‘minta makan’.

Baca juga: ASI Eksklusif Cegah Si Kecil Mengalami Stunting

Akibatnya ketika masalah muncul, mulai dari ibu kesulitan menyusui hingga bayi tidak tumbuh optimal di masa menyusu, dengan mudahnya para nakes justru merekomendasikan susu pengganti – yang iklannya makin gencar dan keberpihakannya makin mengkhawatirkan.

Begitu pula para pemangku kebijakan, mempunyai pemahaman yang amat minim tentang proses menyusui.

Barangkali hanya di Indonesia istilah exclusive breastfeeding (bukan exclusive breastmilk) yang artinya menyusu secara eksklusif dipersempit menjadi sekadar air susu ibu (asi) eksklusif.

ASI diperlakukan tak beda dengan susu pada umumnya, dimasukkan dalam botol diberi melalui dot, disimpan di kulkas, dan diberi menurut urutan tanggal kedaluwarsa, bahkan ada kekonyolan viral tentang asi dibuat menjadi bubuk sehingga ‘lebih praktis’ – risiko teknokrat gagal paham dengan kaidah kodrat.

Banyak bayi-bayi akhirnya menolak menyusu langsung pada ibunya setelah berkenalan dengan dot.

Dan di situ awal ASI seret karena jarang diperah, tidak diberi sesuai kebutuhan anak, hingga akhirnya masuklah susu pengganti. Dan masalah baru dimulai.

Anak menyusu pada ibunya bukan sekadar perkara bonding/ ikatan emosional ibu dan anak.

Belakangan ini, berbagai studi telah mengungkap banyak manfaat dari menyusui langsung: terutama fakta bahwa ASI selalu berubah komposisinya mengikuti kebutuhan anak.

Air liur bayi dan saluran susu menciptakan reaksi unik yang menyebabkan ASI diproduksi dengan antibodi yang dibutuhkan bayi.

Begitu pula ASI mempunyai konsistensi yang tidak sama, sejak bayi pertama menyusu hingga hampir selesai mendekati payudara kosong.

Betapa menyedihkannya, jika ada tenaga kesehatan menuduh ASI seorang ibu yang bening, sebagai cairan tanpa nutrisi.

Sudah saatnya para nakes kita mempunyai kompetensi sebagai konselor laktasi, sehingga bisa melihat dengan lebih bijak, ASI tidak sama dengan susu yang dibayangkan sebagai cairan putih kental, yang bikin bayi-bayi gemuk sintal.

Baca juga: Pentingnya IMD dan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi untuk Cegah Stunting

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.