Kompas.com - 03/08/2022, 09:19 WIB


KOMPAS.com - Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia dan Indonesia.

Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat, jumlah populasi penduduk Indonesia sebanyak 274 juta atau terbesar keempat di dunia.

Dari jumlah itu, sebanyak 2,7 juta penduduk di Indonesia menderita penyakit jantung.

"Biasanya orang datang ke dokter jantung ketika sudah timbul gejala. Padahal penyakit jantung bisa diprediksi 5-10 tahun sebelumnya."

Demikian kata dokter spesialis jantung di Bandung Heart Clinic, dr Agus Thosin SpJP kepada Kompas.com, Selasa (2/8/2022).

Caranya dengan melihat gaya hidup dan riwayat penyakit. Misal, apakah merokok atau tidak, bagaimana kadar kolesterol, diabetes, dan lainnya.

Untuk mengetahui risiko seseorang terhadap penyakit jantung, bisa juga dengan memanfaatkan kalkulator kesehatan dalam aplikasi Jantungku.

Baca juga: Ingin Cek Kesehatan Jantung? Coba Pakai Aplikasi Jantungku

Di sana, masyarakat tinggal memasukkan data umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, kadar kolesterol, tekanan darah sistolik, dan hipertensi.

Data berformat semi wawancara ini akan diolah dan dikalkulasi oleh artificial intelligence (AI) untuk menentukan presentase kemungkinan terkena penyakit jantung.

Apakah orang tersebut berisiko rendah, sedang, atau tinggi. Bagi yang berisiko rendah, bisa mempertahankannya dengan menjaga gaya hidup.

Bagi yang berisiko sedang dan tinggi, bisa menghubungi dokter, untuk membantu mengurangi risiko.

Misal, memperbaiki angka kolesterolnya, tensi darah, menghentikan kebiasaan merokok, dan lain-lain.

"Yang tidak bisa diubah hanya dua, usia dan jenis kelamin," tutur Co Founder Aplikasi Jantungku.

Begitupun bagi mereka yang ragu dengan kondisi kesehatannya, apakah gejala seperti sakit dada yang dirasakannya tanda-tanda penyakit jantung atau bukan.

"Masyarakat bisa memanfaatkan beberapa fitur, seperti mengetahui apakah sakit dada yang dirasakan gejala penyakit jantung atau bukan," ucap dia.

Bagi mereka yang divonis penyakit jantung, bisa memanfaatkan fitur catatan medis. Di sini, semua data rekam medis seperti foto hasil EKG, ECHO, laboratorium, dan lainnya bisa dunggah.

Jadi ketika pasien datang ke dokter jantung manapun, tidak perlu repot menjelaskan. Karena terkadang seseorang lupa dengan hasil detail pemeriksaan kesehatannya.

"Penyimpanan catatan medis digital ini dapat menyimpan data kesehatan penggunanya dengan aman. Rekam medis ini hanya dapat berikan dengan seizin pengguna," tutur dia.

Fitur lainnya ada pemeriksaan mandiri, pertolongan pertama, konsultasi online, dan artikel kesehatan jantung.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.