Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sunardi Siswodiharjo
Food Engineer dan Praktisi Kebugaran

Food engineer; R&D manager–multinational food corporation (2009 – 2019); Pemerhati masalah nutrisi dan kesehatan.

Melawan Sabotase Industri dan Melepas Belenggu Makanan Ultra Proses

Kompas.com - 16/09/2022, 09:58 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Makanan utuh vs makanan ultra-olahan

Menurut Harvard Health Publishing, makanan utuh (whole food/WF) merupakan makanan yang belum diproses atau diproses secara minimal, di mana kandungan vitamin dan nutrisinya masih relatif utuh.

Umumnya makanan itu masih dalam keadaan alami atau hampir alami seperti wortel, apel, ayam mentah, melon, dan kacang mentah tanpa garam. Sifat utama WF adalah rendah kalori, tinggi serat, dan awet kenyang.

Sementara itu, makanan ultra-olahan atau ultra-processed food (UPF)adalah makanan yang sudah mengalami banyak tahap proses pengolahan.

Umumnya, UPF memiliki banyak bahan tambahan seperti gula, garam, lemak, dan pewarna, pengental, penstabil, pengawet, dan pemanis buatan.

Contoh UPF yaitu makanan beku, soft drink, potongan daging dingin, makanan cepat saji, kue kering kemasan, makanan ringan asin, sereal sarapan, biskuit, jus buah kemasan, keripik kemasan, sosis, dan nugget.

Ciri mendasar UPF adalah tinggi kalori dan sangat nikmat rasanya, sehingga sering disebut juga sebagai hyper-palatable food (HPF) atau makanan yang sangat enak.

Riset Martínez Steele E, et al. (2016) menyebutkan UPF merupakan sumber utama kalori (hampir 58 persen) yang dimakan di Amerika Serikat dan menyumbang hampir 90 persen energi yang didapatkan dari gula tambahan.

Baca juga: Bahayanya Terlalu Sering Konsumsi Makanan Ultra-Proses

Mencermati semakin mudahnya kita mendapatkan UPF di minimarket atau supermarket terdekat, bisa ditebak bahwa di Indonesia pun angkanya tidak akan jauh berbeda.

Ada adagium yang sangat populer, The dose make the poison. Hal itu menunjukkan prinsip dasar toksikologi. Prinsipnya semua bahan kimia, termasuk makanan, bahkan air dan oksigen sekalipun, bisa menjadi racun jika terlalu banyak dimakan, diminum, atau diserap.

Inilah akar persoalan yang dikhawatirkan dari efek UPF, di mana konsumen menjadi susah berhenti mengudap makanan, sehingga jumlah asupannya berlebihan tanpa disadari.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.