Kompas.com - 16/09/2022, 15:40 WIB

KOMPAS.com - Dalam dunia wewangian, gaharu termasuk bahan yang populer digunakan untuk pembuatan parfum.

Gaharu (Aquilaria malaccensis) adalah sejenis pohon anggota suku gaharu-gaharuan (Thymelaeaceae).

Baik pada pohon maupun kayu gaharu, terdapat resin yang beraroma wangi. Resin inilah yang menjadi incaran dalam industri kosmetik hingga obat-obatan.

Selain menghasilkan tone bernuansa kayu, gaharu juga memiliki aroma yang kuat layaknya balsam.

Baca juga: Mengapa Parfum Gaharu dari Jepang Ini Berharga Rp 14 Juta?

Berikut ini adalah sederet fakta dari kayu gaharu.

  • Bernilai hingga miliaran rupiah

Minyak gaharu biasa dimanfaatkan untuk parfum kelas dunia dan dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Seperti dilansir laman ZME Science, serpihan gaharu bisa dibanderol seharga 25.000 dollar AS atau sekitar Rp 373 juta per kilogram.

Sedangkan, minyak gaharu murni dapat bernilai hingga 80.000 dollar AS atau setara Rp 1,1 miliar per liter.

  • Sudah digunakan sejak berabad-abad lalu

Dalam banyak budaya kuno, gaharu dilambangkan sebagai wewangian berkelas dan mewah sejak tahun 1.400 sebelum Masehi.

Selama berabad-abad, hanya raja dan pejabat tinggi yang mampu membeli wewangian gaharu. Wewangian gaharu dipandang sebagai simbol kekayaan.

Gaharu juga menjadi bagian dari berbagai upacara keagamaan penting.

Diyakini, wewangian gaharu digunakan pada pemakaman Yesus Kristus, dan dijadikan persembahan dalam agama Budha dan Taoisme.

  • Menghasilkan aroma wangi akibat stres

Pohon gaharu sebagian besar ditemukan di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Gaharu ditanam di ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), namun ketinggian 500 meter mdpl adalah yang paling ideal untuk pertumbuhan gaharu.

Pohon gaharu yang termasuk dalam genus Aquilaria biasanya dapat cepat tumbuh, menghasilkan bunga dan biji saat berusia empat tahun.

Namun, tidak setiap spesies Aquilaria sama. Artinya, tidak setiap pohon Aquilaria akan menghasilkan aroma yang wangi.

Proses terbentuknya aroma gaharu bergantung pada tingkat stres biotik dan fisik yang diinduksi oleh pohon.

Umumnya, pohon Aquilaria yang sehat akan berwarna pucat dan tidak berbau. Tetapi kondisi itu akan berubah jika pohon diserang oleh jenis jamur yang disebut Phialophora parasitica.

Saat terserang jamur, pohon Aquilaria mengaktifkan sistem pertahanan untuk menangkal jamur. Caranya, yaitu memproduksi resin yang diinduksi stres.

Resin tersebut berwarna gelap, lembap, dan mengeluarkan aroma yang khas. Setelah diproduksi, resin ini akan meresap ke dalam inti kayu yang terinfeksi untuk menghentikan penyebaran infeksi.

Meresapnya resin itu lantas mengubah warna inti kayu menjadi lebih gelap. Jenis kayu inilah yang disebut gaharu.

  • Proses memanen gaharu sulit

Masyarakat Jepang, Vietnam, hingga China dan Amerika Selatan sudah menggunakan wewangian berbahan dasar gaharu selama berabad-abad.

Namun, memanen gaharu bukanlah proses yang mudah. Memanen gaharu membutuhkan keterampilan dan pengalaman, dan memakan waktu lama.

Baca juga: Gaharu, Wewangian Para Raja, dan Jalur Perdagangan Samudera Pasai

Bagian kayu aromatik yang berwarna gelap perlu dipisahkan dari bagian kayu yang tidak terinfeksi dengan cara mencukil bagian tersebut menggunakan tangan.

Serpihan kayu hasil resapan resin akan dijual di pasar dan biasanya digunakan sebagai dupa.

Mengekstrak minyak dari kayu gaharu adalah proses yang berbeda, dan ekstrak minyak ini kemudian digunakan oleh produsen wewangian.

Karena bernilai tinggi dan sulit diperoleh, baik serpihan kayu maupun minyak gaharu sering dipalsukan oleh banyak oknum.

  • Pohon gaharu kian langka

Beberapa spesies pohon penghasil kayu gaharu terancam punah akibat penggundulan hutan dan pemanenan berlebihan.

Gaharu alami sulit ditemukan. Ditambah dengan produksi dan perdagangan kayu gaharu yang tidak berkelanjutan, membuat kayu tersebut menjadi kian langka.

Dilaporkan, semua varietas pohon Aquilaria saat ini terancam punah karena populasi pohon menurun tajam hingga 80 persen selama 150 tahun terakhir.

Pada tahun 2013, pasar global untuk gaharu diperkirakan berada pada kisaran 6-8 miliar dollar AS.

Kemudian di tahun 2018, permintaan untuk gaharu tumbuh menjadi 30 miliar dollar AS.

Para ahli mengatakan, hanya 2 persen dari pohon-pohon Aquilaria liar yang terinfeksi yang dapat menghasilkan gaharu secara alami.

Kekhawatiran atas permintaan gaharu yang berlebihan membuat segala spesies pohon penghasil gaharu dimasukkan dalam daftar pohon yang dilindungi oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Pengumpulan gaharu dari hutan primer saat ini dinyatakan sebagai tindakan ilegal.

Beberapa perkebunan gaharu mulai didirikan, terutama di negara-negara seperti Malaysia, Sri Lanka, dan Vietnam.

Kini, berkat upaya konservasi dari berbagai pihak dan penggantian bahan gaharu dengan bahan sintetis, meningkatnya permintaan pasar terhadap gaharu tidak lagi mengancam populasi pohon penghasil gaharu.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.