Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Medio by KG Media
Siniar KG Media

Saat ini, aktivitas mendengarkan siniar (podcast) menjadi aktivitas ke-4 terfavorit dengan dominasi pendengar usia 18-35 tahun. Topik spesifik serta kontrol waktu dan tempat di tangan pendengar, memungkinkan pendengar untuk melakukan beberapa aktivitas sekaligus, menjadi nilai tambah dibanding medium lain.

Medio yang merupakan jaringan KG Media, hadir memberikan nilai tambah bagi ranah edukasi melalui konten audio yang berkualitas, yang dapat didengarkan kapan pun dan di mana pun. Kami akan membahas lebih mendalam setiap episode dari channel siniar yang belum terbahas pada episode tersebut.

Info dan kolaborasi: podcast@kgmedia.id

Waspada Musim Hujan, DBD Menghantui

Kompas.com - 06/10/2022, 15:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Alifia Riski Monika dan Ristiana D. Putri

KOMPAS.com - Musim hujan menjadi salah satu faktor meningkatnya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Sebab, di musim inilah banyak genangan air tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti pembawa virus dengue.

Sebagai orangtua, tentu hal ini menjadi perhatian khusus pada si kecil, terlebih untuk anak yang banyak melakukan aktivitas di luar ruangan.

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan 3M, menguras atau membersihkan tempat genangan air, menutup rapat tempat penampungan air, dan memanfaatkan kembali barang bekas.

Penanganan yang tidak tepat pada penderita DBD akan membuat gejalanya semakin parah. Hal ini juga disampaikan Anna, host siniar Obrolan Meja Makan dalam episode “Gejala DBD pada Bayi”.

Anna mengatakan, bayi dan ibu hami rentan terkena DBD. Gejala umum yang dirasakan si kecil biasanya rewel, nyeri sendi, ruam kulit, mual muntah bahkan disertai darah. Orangtua bisa memakaikan baju yang nyaman, dan berikan makanan yang mudah dicerna.

“Hindari pemberian ibrupofen dan aspirin pada bayi yang terkena DBD,” ungkapnya.

Apa itu DBD?

Dokter spesialis anak FK-KMK UGM, dr. Eggi Arguni mengatakan, DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang suka hidup di tempat-tempat gelap, di tempat banyak baju kotor digantung, serta di genangan-genangan air bersih.

Ketika nyamuk aedes menggigit seseorang yang telah terinfeksi virus dengue, nyamuk tersebut dapat menjadi pembawa virus tersebut.

Baca juga: Hindari Hal Ini saat Teman Punya Isu Kesehatan Mental

Jika nyamuk ini menggigigt orang lain, orang tersebut dapat terinfeksi virus dengue dan kemudian bisa sakit demam berdarah. Meskipun begitu, virus ini tidak dapat menyebar langsung dari orang ke orang.

Tanda-Tanda DBD

Melansir Kids Health, gejala demam berdarah umumnya ringan pada anak-anak dan mereka yang baru pertama kali menderita penyakit ini.

Anak-anak yang lebih besar, orang dewasa, dan mereka yang pernah mengalami infeksi sebelumnya mungkin memiliki gejala sedang hingga parah.

Tanda-tanda DBD biasanya berupa demam tinggi mendadak secara terus-menerus, nyeri atau pegal-pegal pada otot dan sendi, nyeri di belakang mata, serta wajah memerah dan muncul bintik-bintik di kulit.

Selain itu, tanda dan gejala umum lainnya, yaitu

  1. Demam tinggi, mungkin setinggi 40 ° C
  2. Nyeri di belakang mata dan di persendian, otot dan/atau tulang
  3. Sakit kepala parah
  4. Ruam di sebagian besar tubuh
  5. Pendarahan ringan dari hidung atau gusi
  6. Mudah memar

Berapa lama DBD bisa menjangkit seseorang?

Gejala dapat mulai dari empat hari hingga dua minggu setelah digigit oleh nyamuk yang terinfeksi, dan biasanya berlangsung selama dua hingga tujuh hari.

Setelah demam mereda, gejala lain dapat memburuk dan dapat menyebabkan perdarahan yang lebih parah. Misalnya, masalah pencernaan seperti mual, muntah, atau sakit perut yang parah, dan masalah pernapasan seperti kesulitan bernapas.

Dehidrasi, pendarahan hebat, dan penurunan tekanan darah yang cepat dapat terjadi jika DBD tidak diobati. Gejala-gejala ini mengancam jiwa dan membutuhkan perawatan medis segera.

Bagaimana cara mengatasi DBD?

Kids Health mencatat, tidak ada pengobatan khusus yang tersedia untuk demam berdarah. Kasus ringan ditangani dengan banyak cairan untuk mencegah dehidrasi dan banyak istirahat.

Pereda nyeri dengan asetaminofen dapat meredakan sakit kepala dan nyeri akibat demam berdarah. Pereda nyeri dengan aspirin atau ibuprofen harus dihindari, karena dapat membuat pendarahan lebih mungkin terjadi.

Baca juga: Ke Mana Arah Proyek Pendidikan Generasi Muda?

Sebagian besar kasus demam berdarah hilang dalam satu atau dua minggu dan tidak akan menyebabkan masalah yang berkepanjangan.

Jika seseorang memiliki gejala penyakit yang parah, atau jika gejalanya memburuk pada satu atau dua hari pertama setelah demam hilang, segera dapatkan perawatan medis. Sebab, bisa menjadi indikasi DBD, yang merupakan keadaan darurat medis.

Untuk mengobati kasus demam berdarah yang parah di rumah sakit, dokter akan memberikan cairan infus (IV) dan elektrolit (garam) untuk menggantikan cairan yang hilang melalui muntah atau diare.

Ketika dimulai lebih awal, ini biasanya cukup untuk mengobati penyakit secara efektif. Pada kasus yang lebih lanjut, dokter mungkin harus melakukan transfusi darah.

Dalam semua kasus infeksi dengue, berbagai upaya harus dilakukan untuk menjaga agar orang yang terinfeksi tidak digigit nyamuk. Misalnya, dengan menguras tempat yang memiliki genangan air terbuka.

Sebab hal ini akan membantu mencegah penyakit menyebar ke orang lain.

Simak obrolan seru lainnya seputar parenting, dan isu-isu yang cocok untuk pasangan suami istri maupun yang sedang mempersiapkan pernikahan, hanya di siniar Obrolan Meja Makan.

Episode “Gejala DBD pada Bayi” juga bisa Anda dengarkan melalui tautan berikut https://spoti.fi/3BWzYqK.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.