Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - Diperbarui 01/12/2022, 15:23 WIB
Gading Perkasa,
Wisnubrata

Tim Redaksi

"Salah satu parameter umur panjang yang sering disebut dalam studi adalah panjang telomer," ucap Sass.

Telomer merupakan tutup yang ditemukan di ujung kromosom yang melindungi DNA. Jika ukuran telomer terlalu pendek, sel-sel tubuh menjadi tidak berfungsi.

"Ini sebabnya telomer yang pendek dikaitkan dengan harapan hidup lebih rendah serta peningkatan risiko penyakit kronis," lanjutnya.

Baca juga: Makanan yang Membuat Umur Panjang

3. Mengurangi daging merah

Daging merah mengandung lemak trans yang diketahui dapat memicu peradangan dan meningkatkan risiko penyakit jantung, menurut Silvia Carli, RD, ahli diet dan pelatih kekuatan di 1AND1 Life.

Lebih lanjut disampaikan Carli, di saat mencerna daging merah, tubuh akan menghasilkan trietilamina oksida, senyawa yang dikaitkan dengan penyakit kardiovaskular.

Daripada mengonsumsi daging merah untuk memenuhi asupan protein, Sass merekomendasikan makanan lain seperti kacang, lentil, kacang polong dan buncis.

"Kelompok kacang-kacangan memiliki risiko penyakit kronis yang lebih rendah, dan pola diet nabati mengurangi risiko kematian akibat penyakit kronis," ujarnya.

Pada studi meta analisis yang diterbitkan dalam BioMed Research International, ditemukan hubungan yang bertentangan antara konsumsi kacang-kacangan dan semua penyebab kematian.

Levi menganjurkan untuk mendapatkan sumber asam lemak omega-3 dari ikan salmon, makarel, dan sarden.

"Asam lemak omega-3 membantu menurunkan kadar trigliserida dalam darah, memertahankan membran sel, melawan peradangan, dan mendukung hormon yang sehat," imbuh dia.

Baca juga: 7 Makanan di Zona Biru yang Bisa Bikin Panjang Umur, Apa Saja?

4. Hindari makanan olahan dan kemasan

Satu studi menunjukkan, konsumsi makanan olahan memperbesar risiko kematian 18 persen.

Studi yang sama juga melihat makanan olahan dapat memicu peradangan di dalam tubuh.

"Peradangan kronis dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, kanker, dan depresi," catat Levi.

Maka dari itu, kita perlu menambah asupan makanan antiinflamasi dan kaya akan antioksidan.

"Dengan melawan peradangan dan mengurangi stres oksidatif dalam tubuh, makanan ini mendukung sel-sel sehat dan menurunkan risiko penyakit," tambah Levi.

Halaman:
Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com