Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 09/12/2022, 06:03 WIB
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Depresi bisa diderita oleh siapa saja, termasuk remaja. Hanya saja, gejala depresi pada remaja bisa berbeda dengan gejala yang dialami orang dewasa.

Dilansir dari Healthline, hal ini bisa disebabkan karena remaja menghadapi tantangan sosial dan perkembangan yang berbeda, seperti tekanan dari lingkungan terdekat, perubahan hormon, dan tubuh yang berkembang.

Depresi pada remaja juga dapat diasosiasikan dengan beberapa hal, seperti tingginya kadar stres, kecemasan, dan bunuh diri.

Selain itu, depresi juga dapat berdampak pada aspek-aspek dalam kehidupan remaja berikut, yang dapat berujung pada isolasi sosial dan masalah lainnya.

  • Kehidupan pribadi (perasaan, pikiran, atau perilaku saat remaja sedang sendiri dan jauh dari orang lain)
  • Kehidupannya di sekolah
  • Kehidupan di tempat kerja
  • Kehidupan sosial
  • Kehidupan di lingkungan keluarga

Lalu, perlu diingat bahwa depresi merupakan kondisi medis yang memerlukan penanganan serius, bukan sekadar dihibur.

Baca juga: 10 Tips Self Healing untuk Mengurangi Depresi, Generasi Z Wajib Tahu

Gejala depresi pada remaja

Gejala depresi pada remaja terkadang bisa sulit dideteksi oleh orangtua.

Apalagi, terkadang gejala depresi pada remaja ini sering disalahartikan sebagai perasaan biasa yang dialami oleh anak remaja yang baru memasuki masa pubertas.

Adapun menurut American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP), gejala depresi pada remaja meliputi:

  • Tampak sedih, mudah tersinggung, atau menangis
  • Perubahan nafsu makan atau berat badan
  • Penurunan minat dalam aktivitas yang pernah dianggap menyenangkan
  • Sering mengeluh bosan
  • Penurunan energi
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Selalu merasa bersalah, tidak berharga, atau tidak berdaya
  • Menyalahgunakan alkohol atau narkoba
  • Kebiasaan tidur berubah drastis
  • Membicarakan atau berpikir untuk bunuh diri
  • Menarik diri dari pergaulan atau kegiatan ekstrakurikuler
  • Kinerja di sekolah pun memburuk

Namun perlu diperhatikan, beberapa gejala ini tidak selalu menjadi indikator depresi. Sebab, perubahan nafsu makan terkadang merupakan hal normal karena remaja ada dalam masa pertumbuhan, apalagi jika anak senang berolahraga.

Namun tetap saja, orangtua perlu memperhatikan perubahan perilaku pada anak remajanya untuk membantunya jika ia benar-benar depresi.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:
Sumber Healthline


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.