Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/12/2022, 15:15 WIB
Anya Dellanita,
Sekar Langit Nariswari

Tim Redaksi

Sumber Healthline

KOMPAS.com - Micin atau monosodium glutamate (MSG) adalah penyedap rasa berbentuk bubuk kristal berwarna putih dan tidak berbau yang terbuat dari hasil fermentasi sumber karbohidrat.

Micin biasa ditambahkan ke dalam berbagai masakan dan makanan kemasan agar terasa lebih gurih dan sedap.

Rasa gurih dan sedap khas yang berasal dari ricin ini memiliki julukannya sendiri, yaitu umami yang biasa dideskripsikan sebagai rasa dasar kelima di samping manis, asam, asin, dan pahit.

Baca juga: Benarkah Efek Micin Seburuk Itu?

Dalam sebuah studi yang diterbitkan di jurnal PubMed Central pada tahun 2016, ditemukan bahwa rasa umami ini dapat menginduksi sekresi air liur dan meningkatkan cita rasa makanan. 

Terlebih lagi, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa zat umami dapat menurunkan keinginan untuk mengasinkan makanan, sehingga pemakaian MSG dapat mengurangi asupan natrium sekitar tiga persen tanpa mengorbankan rasa.

Namun meski dapat membuat makanan lebih lezat dan memiliki dampak positif, ricin memiliki reputasi yang buruk dan dipandang sebagai salah satu bumbu dapur yang berbahaya dan tidak sehat jika dikonsumsi.

Lantas, apakah benar ricin berbahaya bagi tubuh?

Dengan memasak makanan sendiri, Anda bisa mengatur seberapa banyak micin yang digunakan. Anda pun bebas mengolah makanan tanpa MSG. Dok. Bon Cabe Dengan memasak makanan sendiri, Anda bisa mengatur seberapa banyak micin yang digunakan. Anda pun bebas mengolah makanan tanpa MSG.
Dikutip dari Healthline, rupanya penelitian terkini justru mempertanyakan soal efek micin pada kesehatan manusia.

Adapun reputasi buruk menimpa micin atau MSG berawal saat dokter berkebangsaan China-Amerika bernama Robert Ho Man Kwok menulis sebuah surat pada New England Journal of Medicine yang menjelaskan bahwa dirinya sakit setelah mengonsumsi makanan China yang mengandung micin.

Inilah yang memicu banyak informasi dan penelitian yang salah tentang MSG.

Baca juga: Kenali Efek Samping pada Tubuh Akibat Asupan MSG Berlebih

Kendati demikian, sebuah ulasan yang diterbitkan di PubMed Central pada 2019 mempertanyakan keakuratan penelitian sebelumnya karena beberapa alasan, antara lain:

  • kurangnya kelompok kontrol yang memadai
  • ukuran sampel yang sedikit
  • kelemahan metodologis
  • kurangnya ketepatan dosis
  • penggunaan dosis yang sangat tinggi dan jauh melebihi jumlah yang biasa dikonsumsi
  • pemberian MSG melalui metode suntikan, bukan oral

Saat ini pun, beberapa otoritas kesehatan seperti Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), Food and Drug Administration (FDA), dan European Food Safety Association (EFSA) menganggap micin atau MSG aman untuk dikonsumsi dalam batas tertentu per harinya.

Baca juga: Viral, Benarkah Larutan Micin Bikin Tanaman Subur?

Efek kesehatan micin pada tubuh menurut penelitian

Ada beberapa perbedaan terkait efek kesehatan micin pada tubuh menurut penelitian terkini dan sebelumnya, berikut paparannya,

Efek pada asupan energi

Penelitian lama yang dilakukan pada tahun 2015 dan 2018 menemukan bahwa micin dapat mengganggu efek pensinyalan hormon leptin yang bertugas memberi tahu tubuh bahwa kita sudah cukup makan sehingga meningkatkan asupan kalori.

Namun, menurut dua penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 dan 2019, ditemukan bahwa micin dapat mengurangi nafsu makan dan tidak membuat seseorang makan dengan porsi berlebih.

Lalu studi lainnya mencatat bahwa makan makanan yang diperkaya MSG dapat menyebabkan seseorang makan lebih sedikit kalori dan mengurangi asupan energi, yang artinya lebih menguntungkan dibanding yang tidak diperkaya MSG.

Baca juga: Berapa Banyak Kalori yang Dibakar Saat Berjalan Kaki?

Obesitas dan gangguan metabolisme

Ilustrasi jalan kaki untuk menurunkan berat badan.Shutterstock/Piyawat Nandeenopparit Ilustrasi jalan kaki untuk menurunkan berat badan.
Awalnya, micin dianggap dapat meningkatnya risiko gangguan metabolisme serta memicu peningkatan kadar gula darah dan diabetes.

Namun, penelitian sebelumnya menggunakan metode seperti suntikan bukan dosis oral untuk mengecek dampak MSG, menyebabkan efek yang tidak terkait dengan asupan makanan.

Lalu saat ini, data yang ada saling bertentangan, di mana studi terbaru menunjukkan bahwa ada hubungan antara zat umami dan efek anti-obesitas, sementara penelitian lainnya tidak menunjukkan adanya efek MSG pada berat badan

Kesehatan otak

Beberapa penelitian mengklaim bahwa MSG dapat menyebabkan toksisitas otak karena meningkatkan kadar glutamat berlebih di otak yang akan merangsang sel saraf secara berlebihan, lalu mengakibatkan kematian sel.

Namun menurut beberapa penelitiian yang diterbitkan di PubMed Central, diet glutamat kemungkinan besar tidak akan banyak berpengaruh pada otak.

Baca juga: Cara Terbaik Sarapan untuk Meningkatkan Kesehatan Otak

Pasalnya, hampir tidak ada glutamat yang berpindah dari usus ke dalam darah atau melewati penghalang otak.

Bahkan faktanya, penelitian menunjukkan bahwa setelah dicerna, micin akan dimetabolisme di usus, yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi, diubah menjadi asam amino lain, atau digunakan dalam produksi berbagai senyawa bioaktif.

Intinya, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa MSG dapat mengubah zat kimia otak saat dikonsumsi dalam jumlah normal.

Beberapa orang bisa sensitif terhadap MSG

Meski dianggap sehat, beberapa orang mungkin mengalami efek samping tertentu setelah mengonsumsi MSG karena suatu kondisi bernama MSG Symptom Complex (MSC).

MSC ditandai dengan beberapa gejala, seperti lemas, pusing, sakit kepala, mati rasa, sulit bernapas, hingga hilang kesadaran.

Biasanya, gejala ini terjadi pada orang sensitif yang mengonsumsi tiga gram atau lebih MSG tanpa makanan.

Namun perlu diingat, tiga gram MSG merupakan dosis yang tinggi.

Pasalnya, satu porsi makanan yang diperkaya MSG biasanya mengandung kurang dari setengah gram micin, sehingga tidak mungkin mengonsumsi tiga gram sekaligus.

Baca juga: Batasi Konsumsi Garam dengan MSG, Apakah Bisa?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber Healthline
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com