Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 05/01/2023, 13:41 WIB
Gading Perkasa,
Wisnubrata

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Teknologi canggih hadir untuk memudahkan manusia. Bahkan, anak-anak di masa sekarang sudah begitu akrab dengan gadget.

Tetapi, sebaiknya jangan membiarkan anak terlalu terikat dengan gadget. Terutama jika orangtua menjadikan gadget atau ponsel pintar sebagai sarana untuk menenangkan anak yang rewel.

Studi terbaru yang dimuat dalam JAMA Pediatrics menemukan, kebiasaan menenangkan anak dengan ponsel bisa membuat mereka mengalami masalah dalam hal mengatur emosi.

Dampak penggunaan gadget untuk menenangkan anak

Studi yang dilakukan para peneliti di University of Michigan mengamati lebih dari 400 orangtua dan anak mereka yang berusia antara 3-5 tahun.

Para peneliti ingin mengetahui lebih banyak tentang apa yang terjadi ketika orangtua dan pengasuh menggunakan gadget sebagai alat untuk menenangkan anak.

Mereka menemukan hubungan antara penggunaan perangkat untuk menenangkan anak yang rewel dengan kemampuan mereka mengatur diri.

Anak yang diberi ponsel ketika rewel cenderung mengalami lebih banyak kesulitan menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan di masa depan.

Studi ini merekomendasikan dokter anak dan penyedia layanan kesehatan untuk mendiskusikan dengan orangtua mengenai pendekatan penenangan alternatif pada anak.

Baca juga: Anak Rewel di Malam Hari? Lakukan 6 Cara Ini agar Mudah Tertidur

Menghilangkan kesempatan anak untuk belajar menenangkan diri

Tantrum dan emosi adalah hal yang umum terjadi pada anak berusia 3-5 tahun. Maka tak heran, orangtua ingin melakukan segala cara agar anak mereka kembali tenang.

Namun, di rentang usia itulah anak perlu diberi kesempatan menghadapi tantangan emosional sehingga mereka mampu mengembangkan keterampilan mengatasi masalah.

"Mengalami emosi negatif seperti frustrasi, kemarahan, dan kesedihan, dan pemulihan adalah pelajaran berharga bagi anak-anak," sebut Scott Roth, PsyD, pendiri dan direktur klinis di Applied Psychological Services of New Jersey.

"Hal ini membuat mereka siap untuk kekecewaan berikutnya dan dapat membantu membangun ketahanan."

Usia 3-5 tahun merupakan periode waktu kritis bagi anak untuk mengembangkan jenis keterampilan mengatur emosi.

Para peneliti mengatakan, pengaturan emosi lebih penting untuk keberhasilan sekolah anak daripada kecerdasan.

Kemampuan untuk mengatur emosi memungkinkan anak untuk tetap tenang, fokus, dan fleksibel saat menghadapi tantangan baru.

"Berhasil mengatur atau mengurangi jumlah kesulitan yang dirasakan anak dapat membantu mereka membangun kepercayaan pada kemampuan mereka," kata Roth.

Apabila orangtua mengalihkan perhatian anak-anak dengan ponsel dan tidak membantu mereka mengatasi situasi yang menyulitkan, kesempatan anak untuk belajar menenangkan diri pun hilang.

Baca juga: Riset Ungkap Kaitan Ibu Depresi dan Anak Rewel

Cara alternatif menenangkan anak

Jika selama ini kita selalu memanfaatkan gadget sebagai sarana untuk menenangkan anak, cobalah cara lain seperti meminta anak menjelaskan perasaan mereka.

"Bantu anak mengidentifikasi apa yang mereka rasakan dan mengapa perasaan itu ada," tutur Ali Alhassani, dokter anak dan kepala klinik di Summer Health.

"Begitu mereka memahami perasaan mereka, orangtua dapat membantu mereka melewatinya dengan teknik seperti pernapasan dalam, citra terpandu, relaksasi otot, dan kesadaran."

Ketika orangtua melihat anak marah, pastikan anak mengetahui bahwa bukan masalah besar bagi mereka untuk merasakan emosi negatif.

Roth menyarankan untuk memberikan pertanyaan kepada anak seperti "saya mengetahui kamu benar-benar marah. Beri tahu saya bagian mana dari tubuhmu yang merasa marah?"

"Setelah anak mampu menciptakan koneksi antara tubuh dan pikiran, orangtua dapat mengenalkan teknik pernapasan yang mempromosikan gagasan tubuh yang rileks menghasilkan pikiran yang rileks," lanjut Roth.

Jauh lebih baik jika teknik menenangkan diri ini diajarkan kepada anak saat mereka sedang tidak emosi.

"Mencoba mengajari anak keterampilan dan pelajaran berharga ini di saat mereka tantrum biasanya merupakan usaha yang sia-sia," ungkap Roth.

"Cobalah berbicara dengan anak dan ajari ketika mereka belum mengalami disregulasi."

Baca juga: Anak Mudah Rewel di Usia 2 Tahun, Apakah Normal?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com