Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Fifi Alfiah
Penulis Lepas

Penulis lepas dan perintis web gaya hidup cetoir.com. Bekerja secara independen sebagai content writer lepasan.

Stagnasi Dalam Sepotong Kemeja

Kompas.com - 25/02/2023, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

ADIK perempuan saya, yang umurnya satu dekade lebih muda, sebentar lagi akan masuk asrama. Pakaian pergi kesukaannya sudah disiapkan. Suatu pagi, dia harus keluar untuk membeli perlengkapan sekolah dan alat tulis. Tiba-tiba, dia menghampiri saya yang sedang menyiram sayuran di halaman.

"Pinjam baju dong," katanya.

Saya merasa terkejut dan diliputi perasaan ganjil saat mendengar kalimat tersebut. Semacam kelupaan sesuatu padahal tidak. Di sisi lain saya juga merasa angler. Sulit dijelaskan. Bukan hanya karena itu pertama kalinya dia meminjam baju, tapi juga karena hal lain yang saya tidak yakin.

Seperti, misalnya, perasaan asing ketika menyadari bahwa saya sudah berhenti tumbuh, sementara adik perempuan saya sedang getol meninggi.

Baca juga: Rahasia Hidup Bahagia Menurut Pakar, Apa Saja?

Setelah memilihkan kemeja katun berwarna abu pudar, saya sengaja menunggu beberapa saat untuk melihat dia selesai berpakaian. Masih sedikit longgar, memang.

Menurut prinsip Ibu saya dulu, ukuran segitulah yang paling ideal. Kalau longgar, katanya, justru bagus. Supaya awet dan tidak perlu beli-beli terus. Maka, komentar yang saya berikan singkat saja.

"Bagus, sudah pas itu,"

Saya kemudian kembali ke halaman. Saya lantas melanjutkan menyirami sayuran sambil melamun.

Baju yang saya pinjamkan itu masih pas di badan saya. Rasanya aneh, melihat bocah yang saya timang-timang sewaktu bayi kini sudah berhasil menyamai pertumbuhan saya.

Age of Stagnation

 

Pada lain waktu, saya menonton serial tentang kuda depresi yang punya selera humor cukup bagus. Pada satu episode di sesi kedua, terjadi percakapan yang menarik bagi saya. Salah satu karakter berteori tentang age of stagnation atau masa stagnasi.

Katanya, masa stagnasi terjadi di umur berapa pun ketika kita berhenti "tumbuh" dan hanya terpaku pada rutinitas yang monoton. Fase ini menaruh kita di posisi “mapan” yang, secara sadar atau tidak, mengalihkan kita dari hal-hal baru yang menantang.

"Your age of stagnation is whenever you stop growing. For most people, it’s when they get married, settle into a routine. You meet someone who loves you unconditionally and never challenges you or wants you to change. Then you never change." —Bojack Horseman, S02E02: Yesterdayland.

Selepas mendengar dialog tersebut, saya mengetuk layar ponsel. Menekan pause, kemudian duduk dan berpikir. Taruhlah masa stagnasi beberapa orang benar-benar dimulai saat mereka menikah. Itu berarti status pernikahan membuat mereka harus mengenakan “kemeja” yang sama setiap hari.

Entah itu berarti harus menjalani rutinitas mengurus rumah atau mencari nafkah. Mengantar anak ke sekolah atau sesederhana mengosongkan tempat sampah. Berulang-ulang seperti itu setiap harinya.

Tapi apakah hidup dalam pengulangan selalu berarti buruk? Tidak juga. Pada taraf tertentu, sebuah rutinitas yang konstan memberi kita rasa aman.

Baca juga: Hidup Bahagia Berbeda dengan Hidup Berarti

Di bayangan saya, mirip seperti mendayung perahu di atas kolam, alih-alih di lautan. Airnya sangat stabil dan mudah diprediksi. Namun, sesekali kita diam-diam merasa rindu bertualang di laut lepas dan memecah ombak.

Senada seperti yang pernah dituliskan oleh Dostoevsky. Manusia, katanya, tidak selalu membuat keputusan rasional yang menguntungkan bagi dirinya sendiri. Kadangkala, kita justru sengaja membuat keputusan bodoh yang merugikan, semata untuk membuktikan bahwa kita manusia merdeka yang bebas memilih apa saja.

Keputusan untuk berhenti "tumbuh" dan memakai sepotong "kemeja yang sama" bisa jadi adalah keputusan paling bijak dan paling rasional dibandingkan keputusan apa pun.

Masalahnya, manusia tak selalu ingin berlaku bijak. Sesekali, kita berfantasi untuk bertindak ceroboh dan konyol. Seperti sengaja menunda-nunda pekerjaan dan menikmati pacuan adrenalin ketika harus menuntaskannya di ujung deadline.

Hal seperti itu, anehnya, selalu membuat kita merasa “lebih hidup”. Seolah itu adalah padanan yang adil untuk mengisi istilah “lebih mati”. Dorongan semacam ini jugalah yang membuat kita terobsesi pada kampanye keluar-dari-zona-nyaman.

Namun, bagaimana kalau ternyata hidup tak lebih dari lapisan stagnasi tanpa akhir? Masa remaja, contohnya, bisa saja merupakan masa stagnasi minor di mana pergi ke sekolah, nongkrong bersama teman, atau mencoba hal-hal baru, pada dasarnya merupakan bentuk rutinitas monoton itu sendiri.

Bedanya hanya satu. Fase stagnasi yang demikian terjadi sebelum pendewasaan mengambil alih dan memicu kita untuk berpikir, “Hidup kok begini-begini saja.”

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com